Kematian

  • Sinopsis

Pesta adat kematian ala Batak Toba di Humbang Hasundutan terbilang cukup sakral, terlebih jika meninggal dalam kondisi Saur Matua dan Sari Matua, tetapi walaupun demikian, ada 16 jenis kematian dalam etnik Batak Toba yang penting kita ketahui.

  • Narasi

setiap etnik tentunya memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan keunikan mereka dari berbagai pesta adat. etnik batak toba yang cukup termasyur juga demikian, memiliki 16 bahkan lebih istilah kematian. Berikut 16 jenis atau status kematian dalam etnik Batak Toba di Humbang Hasundutan. Mate di bortian, yakni kematian bayi yang dikandungan, atau yang belum sempat dilahirkan. saat bayi meninggal di kandungan, penguburannya tidak melalui prosesi pemakaman secara adat, tetapi hanya secara keagamaan saja. mate poso-poso, yakni kematian saat masih bayi, atau ketika ia sudah dilahirkan. Setelah status ini, ada juga status kematian yakni mate dakdanak, jenis atau status kematian ini adalah untuk orang yang meninggal di usia anak-anak. meninggal Di usia remaja atau dalam istilah batak toba “Naposo bulung”, juga ada istilah kematiannya yakni mate bulung. Setelah istilah mate bulung, ada juga status kematian yakni mate ponggol, yakni diberikan kepada orang yang meninggal di usia dewasa tetapi belum menikah. Saat seseorang sudah meninggalkan masa lajangnya, atau sudah menikah tetapi belum memiliki keturunan disebut dengan istilah Mate pupur. status kematian yang selanjutnya adalah mate punu, yakni diberikan bagi orang yang meninggal saat sudah memiliki keturunan, tetapi hanya anak perempuan, tetapi tidak memiliki anak laki-laki. etnik batak toba memiliki sistem kekerabatan yakni patrilineal itulah sebabnya anak laki-laki yang diharapkan di dalam sebuah keluarga batak toba. selanjutnya adalah mate tilahaon, yakni status kematian bagi anak yang meninggal, dengan kondisi orangtua yang masih hidup. status kematian yang selanjutnya adalah mate mangkar, yakni Orang yang meninggal ketika sudah berkeluarga dan meninggalkan anak yang masih kecil atau belum menikah. status kematian yang selanjutnya, diberikan kepada seorang ayah (bapa) yang wafat serta meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil, yakni status mate ponggol ulu. berbeda dengan status kematian, ketika seorang ibu wafat serta meinggalkan suami dan anak-anak yang masih kecil, yakni dengan status kematian mate martopas tataring.status kematian yang selanjutnya mate hatungganeon, yakni Orang yang meninggal ketika anaknya sudah menikah tetapi belum dikaruniai  keturunan.

mate sarimatua, yakni Orang yang meninggal ketika anak-anaknya sudah menikah, baik itu yang sudah dan belum berketurunan.

mate saur matua, status kematian bagi Orang yang meninggal ketika semua anak-anaknya telah memiliki keturunan.

mate saur matua bulung, status ini termasuk status yang istimewa, dan suatu harapan bagi setiap keluarga batak toba. yakni status kematian bagi orang yang meninggal saat semua keturunannya sudah memiliki anak , dan cucunya telah memiliki keturunan juga, yakni dengan istilah ‘marnini-marnono’.

mate saur matua nauli bulung, status kematian ini adalah status yang paling didambakan dari sebelumnya yakni mate saur matua bulung. dalam hal ini, orangtua yang meninggal dalam status demikian sudah dianggap terhormat atau ‘sangap’, karena dirasa bahwa tujuan hidupnya sudah terpenuhi dan tercapai sebaik mungkin. Hampir sama dengan Mate Saur Matua Bulung, tetapi syaratnya adalah tidak ada keturunan yang mendahului kematiannya.