Kesenian Lokal dan Seputar Alat Musik Tradisional Masyarakat Pakpak

Masyarakat Pakpak-Dairi memberi nama ende-ende terhadap semua jenis musik vokalnya. Untuk membedakan antara jenis nyanyian, di belakang kata ende-ende dilanjutkan dengan nama nyanyiannya. Misalnya, ende-ende anak melumang, yaitu nyanyian ratapan seorang anak ketika terkenang pada salah satu atau kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia; ende-ende merkemenjen yaitu nyanyian mengambil kemenyan; ende-ende memuro yaitu nyanyian sambil kerja menjaga padi dan tanam-tanaman di ladang, dan lain-lainnya. Umumnya masyarakat Pakpak-Dairi membagi alat musiknya secara etnosains berdasarkan bentuk penyajian dan cara memainkannya. Berdasarkan bentuk penyajiannya alat-alat musik tersebut masih dibagi lagi atas dua kelompok: (1) gotci dan (2) oning-oning. Sedangkan bedasarkan cara memainkannya instrumen musik tersebut terdiri atas tiga kelompok, yaitu: (1) sipalu, (2) sisempulen, dan (3) sipiltiken. Gotci ialah instrumen musik yang disajikan dalam bentuk seperangkatan (ensambel) terdiri dari: genderang sisibah, genderang silima, gendang sidua-dua, gerantung, mbotul, gung, dan kalondang. Instrumen yang termasuk ke dalam kelompok gotci adalah sebagai berikut, yang dimainkan bersama-sama dengan gung sada rabaan (seperangkatan gong) yang terdiri dari empat buah gong, yaitu secara berurutan dari gong terbesar hingga terkecil: (1) panggora (penyeru), (2) poi (yang menyahuti), (3) tapudep (pemberi semangat), dan (4) pongpong (yang menetapkan).

Instrumen lain yang dipakai ialah sarune (double reed oboe) dan cilat-cilat (simbal). Pada saat sekarang, kedua instrumen ini hanya dipakai sewaktu-waktu saja, artinya, bisa dipakai dan boleh juga tidak dipakai. Dalam penyajiannya, ansambel gendang ini hanyalah dipakai pada jenis upacara sukacita saja (kerja mbaik) pada tingkatan upacara yang terbesar dan tertinggi secara adat (males bulung simbernaik) dan harus menyembelih kerbau sebagai kurban pada upacara dimaksud. Genderang sisibah ialah seperangkat gendang konis satu sisi yang jumlahnya sembilan.

Gambar 1 : Sarune
Gambar 2 : Genderang Sisibah

Dalam konteks pertunjukan tradisional adat ensambel ini disebut Si Raja Gumeruguh, sesuai suara yang dihasilkannya bergemuruh. Gendang satu disebut Si Raja Gumeruguh pola ritemnya menginang-inangi atau menginduk; gendang dua Si Raja Dumeredeng atau Si Raja Menjujuri dengan pola ritmik menjujuri atau mendonggil-donggili (mengagungkan, menghantarkan), gendang ketiga sampai ketujuh, disebut Si Raja Menak-menak menghasilkan pola ritmik benna kayu pembawa melodi (menenangkan), gendang kedelapan Si Raja Kumerincing menghasilkan pola ritme menetehi (menyeimbangkan), dan gendang kesembilan Si Raja Mengampuh menghasilkan pola ritmik menganak-anaki atau tabil sondat [menghalang-halangi].

Genderang si lima ialah seperangkatan gendang (membranofon) satu sisi berbentuk konis yang terdiri dari lima buah gendang konis satu sisi. Kelima buah gendang ini adalah berasal dari genderang sisibah dengan hanya menggunakan gendang pada bilangan ganjil saja diurut dari gendang terbesar, yaitu gendang 1, 3, 5, 7, 9. Nama lain dari ensembel ini ialah Si Raja Kumerincing [bergemerincing, meramaikan]. Adapun nama-nama gendang berdasarkan urutan dari gendang terbesar hingga terkecil ialah: Si Raja Gumeruguh dengan pola ritmik menginang-inangi (induk yang bergemuruh); Si Raja Dumerendeng dengan pola ritmis menjujuri atau mendonggil-donggili (menghantarkan atau meneruskan); Si Raja Menak-menak dengan pola ritmis mendua-duai [menenteramkan]; Gendang VII, Si Raja Kumerincing dengan pola ritmis mendua-duai [meramaikan]; dan Si Raja Mengampuh memainkan pola ritmis menganaki [menyahuti, mengikuti].

Ensambel Gendang Sidua-dua terdiri dari sepasang gendang dua sisi berbentuk barel. Kedua gendang tersebut terdiri dari gendang inangna (gendang induk, gendang ibu) yaitu gendang terbesar, dan gendang anakna (gendang anak, jantan) yaitu gendang terkecil. Perangkat lain dari ensembel gendang sidua-dua ini ialah empat buah gong (Pakpak-Dairi: gung sada rabaan), dan  sepasang cilatcilat (simbal). Dalam penyajiannya, ensambel gendang ini secara umum dipakai untuk upacara ritual, seperti mengusir roh pengganggu di hutan sebelum diusahai menjadi lahan pertanian (mendegger uruk), dan hiburan saja, seperti upacara penobatan raja, atau untuk mengiringi tarian pencak (moncak).

Gambar 3 : Gendang Sidua-dua
Link Video : Alat Musik Tradisional Pakpak