CERITA RAKYAT

kabupaten samosir merupakan kabupaten yang dihuni oleh mayoritas penduduk batak toba. batak toba memiliki beragam cerita rakyat yang diturunkan dari generasi ke generasi. cerita rakyat tersebut diantaranya ialah asal terbentuknya danau toba, sejarah si raja simangale, dan sejarah tongkat tunggal panaluan. certita rakyat di kabupaten samosir dijadikan sebuah pertunjukan budaya dianataranya ialah pertunjukan teater yang biasanya diadakan di pusut buhit sebagai tempat asal usul batak toba, tentang kepribadian dan perjuangan raja serta kisah seorang kakak beradik yang melanggar norma adat istiadat masyarakat sehingga terbentuklah yang disebut tongkat tunggal panaluan. dalam bahasa indonesia disebut juga sebuah “tongkat tunggal yang bisa mengalahkan” dalam artian tongkat tersebut dipercaya memiliki kesaktian karena terdapat 7 roh manusia yang berada di dalam tongkat ini.

1. Asal usul terbentuknya danau toba dan Pulau Samosir

terbentuknya danau toba

Sejarah danau Toba dan pulau Samosir juga tak pernah lepas dari cerita rakyat yang beredar. Sampai saat ini cerita rakyat itu sudah menjadi legenda dan bahkan tidak sedikit yang membuat dokumentasi melalui film tentangnya. Legenda ini begitu masyhur sehingga dijaga dengan baik oleh anak turun yang tinggal disekitar danau Toba. Boleh dipercaya boleh tidak karena sejarah danau Toba ini termasuk ke dalam ciri khas adat dan budaya masyarakat danau Toba dan sekitarnya. Tak ada yang bisa menceritakan detail asli ceritanya karena memiliki banyak versi. Namun, seluruhnya berawal dari seorang nelayan bernama Toba, putri ikan, dan anaknya Samosir.

Dahulu sebelum menjadi danau Toba, wilayah tersebut merupakan sebuah desa yang asri dengan sungai dan sawah sebagai media pencaharian masyarakatnya. Kehidupan yang sederhana begitu tampak dari masyarakat wilayah tersebut tak terkecuali bagi seorang petani bernama Toba. Hidupnya sederhana dan penuh dengan rasa syukur dalam kesehariannya meskipun diketahui mata pencahariannya hanya sebagai petani dan nelayan kecil di sungai. Suatu hari dia pergi ke sungai dengan harapan memperoleh ikan yang banyak untuk dijual dan dijadikan lauknya untuk makan.  Tak seperti biasanya pada hari itu dia begitu kesulitan untuk mendapatkan ikan. Dia tetap bersabar mencari ikan hingga langit menunjukkan waktu sore hari sehingga dia memtuskan untuk pulang. Akan tetapi sesaat sebelum pulang dia merasaka bahwa kailnya bergerak dengan begitu kuat. Semangatlah dia untuk mendapatkannya karena berfikir akan mendapatan hasil tangkapan yang besar. Benar saja tak lama kemudian muncul ikan koi berwarna kuning keemasan yang elok lagi besar. Kemudian dibawalah hasil makanan tersebut ke rumahnya untuk dijadikan makanan.

Saat ingin memasak makanan dia mengambil ikan itu, akan tetapi saat ingin mengambil ikan tersebut dia merasa iba dan kasihan dengan paras ikan ini. Akhirnya dia mengurungkan niatnya dan makan dengan lauk seadanya. Tak lupa dia memberikan makan untuk ikan itu juga. Keanehan terjadi saat pagi hari karena dia sudah tidak mendapati ikan di bejana namun banyak makanan yang tersedia diatas meja. Penasaran dia pun akhirnya terkaget dengan perempuan yang sedang berada di dapurnya. Belum sampai kagetnya hilang wanita tersebut mengaku sebagai jelmaan dari ikan yang telah ditangkapnya dna merupakan seorang putri ikan. Setelah tenang barulah Toba menanyakan kejelasan asal usul wanita tersebut. Singkat cerita mereka berdua saling jatuh cinta karena sering bersama. Akhirnya Toba menikahi putri ikan tersebut dengan syarat bahwa Toba tidak boleh menceritakan asal usul putri ikan kepada orang lain termasuk anaknya.

Toba dan putri ikan hidup bahagia dengan cara yang sederhana. Meskipun putri ikan bisa menghasilkan emas dari sisiknya akan tetapi Toba tidak ingin berharap dari hasil tersebut. sekuat tenaga dia bekerja untuk menghidupi keluarganya. Sampai suatu ketika dia telah memiliki seorang pemuda yang bernama Samosir. Sayangnya Samosir termasuk anak yang hiperaktif dan susah diatur sehingga seringkali membuat masalah baik kepada keluarganya maupun penduduk sekitarnya. Akan tetapi Toba dan putri ikan tetap sabar untuk menghadapi anaknya tersebut. sudah tak terhitung lagi berapa masyarakat yang mengeluh pada Toba tentang perilaku anaknya namun ketika dinasehati oleh Toba, Samosir tetap bergeming.

Hingga suatu ketika Samosir diperintahkan oleh ibunya yang tak lain putri ikan untuk mengantarkan makanan ke sawah. Makanan tersebut dikirim untuk ayahnya yang sedang bekerja. Saat menuju ke sawah Samosir ternyata justru memakan bekal untuk ayahnya tersebut dan tertidur dibawah pohon. Di sisi lain ayahnya begitu kelaparan menunggu kiriman makanan dari Samosir, sampai dia tak tahan akan rasa laparnya. Akhirnya dia memutuskan pulang untuk makan, sampai di tengah jalan dia menemukan anaknya sedang tidur dengan bekal di sampingnya. Ketika dibangunkan Samosir mengaku telah memakan habis bekalnya dan tertidur disana. Alangkah marahnya Toba mendengar anaknya yang masih bersikukuh merasa dirinya benar. Hingga akhirnya tak sengaja dia melanggar sumpahnya dengan berujar bahwa Samosir adalah anak ikan. Setelah berujar seperti maka langit tampak seperti marah dan menumpahkan hujan yang sangat lebat hingga menenggelamkan desanya. Putri ikan yang menyadari eksalahan suaminya hanya bisa tertunduk dan kembali menjadi ikan, sedangkan Samosir dikutuk oleh ayahnya sehingga menjadi pulau sedangkan Toba hanyut tenggelam terbawa arus dan akhirnya aliran sungai akibat hujan lebat itu menjadi sebuah danau yang ditangahnya terdapat pulau Samosir. Itulah legenda yang menjadi sejarah danau Toba.

2. Patung Sigale-gale Samosir

patung raja simangale menjadi ajak pertunjukan

Dahulu kala ada seorang Raja yang sangat bijaksana yang tinggal di wilayah Toba. Raja ini hanya memiliki seorang anak, namanya Manggale. Pada zaman tersebut masih sering terjadi peperangan antar satu kerajaan ke kerajaan lain. Raja ini menyuruh anaknya untuk ikut berperang melawan musuh yang datang menyerang wilayah mereka. Pada saat peperangan tersebut anak Raja yang semata wayang tewas pada saat pertempuran tersebut.

Sang Raja sangat terpukul hatinya mengingat anak satu-satunya sudah tiada, lalu Raja jatuh sakit. Melihat situasi sang Raja yang semakin hari semakin kritis , penasehat kerajaan memanggil orang pintar untuk mengobati penyakit sang Raja, dari beberapa orang pintar (tabib) yang dipanggil mengatakan bahwa sang Raja sakit oleh karena kerinduannya kepada anaknya yang sudah meninggal. Sang tabib mengusulkan kepada penasehat kerajaan agar dipahat sebuah kayu menjadi sebuah patung yang menyerupai wajah Manggale, dan saran dari tabib inipun dilaksanakan di sebuah hutan.

Ketika Patung ini telah selesai, Penasehat kerajaan mengadakan satu upacara untuk pengangkatan Patung Manggale ke istana kerajaan. Sang tabib mengadakan upacara ritual, meniup Sordam dan memanggil roh anak sang Raja untuk dimasukkan ke patung tersebut. Patung ini diangkut dari sebuah pondok di hutan dan diiringi dengan suara Sordam dan Gondang Sabangunan. Setelah rombongan ini tiba di istana kerajaan , Sang Raja tiba-tiba pulih dari penyakit karena sang Raja melihat bahwa patung tersebut persis seperti wajah anaknya. Inilah asal mula dari patung Sigale-gale (Patung putra seorang Raja yang bernama Manggale).

3. Asal Usul Tongkat Tunggal Panaluan

tongkat sakti yang terdiri dari 7 roh manusia

Tunggal Panaluan adalah sebuah benda berbentuk tongkat (tungkot) dengan ukuran panjang kira-kira 170 cm, dan biasanya dimiliki oleh Datu bolon (dukun besar).Tongkat Tunggal Panaluan ini salah satu seni dari suku Batak yang sudah terkenal diseluruh dunia, yang diukir menurut kejadian sebenarnya dari kayu tertentu yang juga memiliki kesaktian. Masyarakat suku Batak meyakini bahwa benda ini memiliki kekuatan gaib, seperti untuk meminta hujan, menahan hujan (manarang udan), menolak bala, wabah, mengobati penyakit, mencari dan menangkap pencuri, membantu dalam peperangan dll. Ada beberapa versi mengenai kisah terjadinya tongkat Tongkat Tunggal Panaluan ini, tetapi pada intinya kisah-kisah tersebut hampir bersamaan atau mirip. Berikut ini adalah kisah atau legenda asal mula Tungkot Tunggal Panaluan tersebut.

Dahulu kala di daerah Pangururan, Pulau Samosir tepatnya di Desa Sidogordogor tinggallah seorang laki-laki bernama Guru Hatimbulan. Beliau adalah seorang dukun yang bergelar ‘Datu Arak ni Pane‘. Istrinya bernama Nan Sindak Panaluan. Mereka sudah cukup lama menikah tetapi belum juga di karuniai seorang anakpun. Suatu ketika perempuan itu hamil setelah begitu lamanya mereka menunggu, kehamilan tersebut membuat heran semua penduduk kampung itu dan menganggap keadaan itu hal yang gaib (aneh), bersamaan pada saat itu juga sedang terjadi masa kemarau dan paceklik, cuaca sangat panas dan kering, saking teriknya tak tertahankan, permukaan tanah dan rawa-rawa pun menjadi kerak dan keras. Melihat keadaan kemarau dan panas yg masih terjadi ini, membuat Raja Bius (head of Malim community) menjadi risau, lalu ia pergi menjumpai Guru Hatimbulan dan berkata kepadanya: ‘Mungkin ada baiknya kita mencari sebabnya dan bertanya kepada Debata Mulajadi Nabolon, mengapa panas dan kemarau ini masih terus berkepanjangan?’. Hal ini sangat jarang terjadi sebelumnya, lalu Guru Hatimbulan menjawa, ”Semua ini mungkin saja terjadi”. lalu Raja Bius mengatakan,”Semua orang kampung heran mengapa istrimu begitu lama baru hamil, mereka berkata bahwa kehamilannya itu sangat terlalu lama”. karena percakapan itu maka timbullah pertengkaran diantara mereka, tetapi tidak menyebabkan perkelahian.

Di lain waktu tiba saatnya istri Guru Hatimbulan melahirkan, perempuan itu melahirkan anak kembar, seorang anak laki-laki dan perempuan, seketika itu juga maka hujan pun turun dengan lebatnya, maka semua tanam-tanaman dan pepohonan nampak segar kembali dan keadaan menjadi hijau lagi. Untuk merayakan itu semua, lalu Guru Hatimbulan memotong seekor lembu serta untuk mendamaikan kekuasaan jahat. Ia juga mengundang semua penatua-penatua dan kepala-kepala kampung dalam perjamuan itu, dimana nama anak-anak itu akan di umumkan putranya diberi nama Si Aji Donda Hatahutan dan putrinya itu di beri nama Si Boru Tapi Nauasan. Guru Hatimbulan dan para penonton kembali ke rumah mereka dengan hati kecewa, tetapi mereka tidak putus asa , mereka tetap berusaha mencari jalan keluarnya dengan mencari datu lain. Kemudian Guru hatimbulan mendengar kabar ada datu yang hebat, namanya Marangin Bosi atau Datu Mallantang Malitting. Orang itu pergi ke pohon tersebut, tetapi mengalami nasib yang sama.Kemudian ada juga Datu Boru SiBaso Bolon, dia juga menjadi tawanan si pohon itu. Hal yang sama juga terjadi kepada Datu Horbo Marpaung, Si Aji Bahar(si Jolma so Begu) yang mana setengah manusia dan setengah iblis. Dan seekor ular pun di telan pohon itu. Guru hatimbulan sudah kehabisan akal,dan juga telah mengeluarkan begitu banyak uang untuk keperluan pemusik(gondang) , pele-pelean, dan semua yg diminta para datu itu utk roh yg ada di pohon tsb.

Beberapa hari setelah itu, seorang datu, bernama Si Parpansa Ginjang memberitahukan Guru hatimbulan bahwa dia dapat membebaskan kedua anaknya dari tawanan pohon itu. Guru hatimbulan mempercayai omongan si datu itu,dan menyediakan semua apa yang diminta oleh si datu. Si datu berkata bahwa kita harus memberikan persembahan kepada semua roh, roh tanah(spirit of land), roh air(water), roh kayu(wood) dan lainnya baru kemudian bisa membebaskan kedua anak tersebut. Guru hatimbulan mempersiapkan semua yg diperlukan oleh si datu utk upacara tsb sesuai dgn arahan si datu. Kemudian mereka pergi menemui pohon itu disertai oleh orang kampung sekitarnya. Setelah si datu selesai memberikan mantra kepada senjata wasiatnya,lalu dia menebang pohon itu tetapi semua kepala orang yangg ada di pohon jadi menghilang, juga anjing dan ular yg tertelan pohon itu. Semua orang yg menyaksikan seperti terperanjat, lalu si datu berkata kepada Guru hatimbulan: ‘Potonglah pohon itu menjadi beberapa bagian dan ukirlah gambaran dari orang-orang yg ditelan oleh pohon ini’. Guru hatimbulan memotong batang pohon itu menjadi beberapa bagian dan mengukirnya menjadi sebuah tongkat dengan bentuk 5 orang lelaki, 2 orang anaknya, seekor anjing dan seekor ular. Setelah selesai mengukit tongkat tersebut menjadi 9 rupa, maka semua orang kembali ke kampung guru hatimbulan, ketika mereka tiba di kampung ditandai dengan bunyi gong, dan juga mengorbankan seekor lembu untuk menghormati mereka yang di ukir dalam tongkat tersebut. Setelah guru hatimbulan selesai manortor maka tongkat itu diletakkan membelakangi muka lumbung padi. Setelah itu baru datu Parpansa Ginjang manortor (menari), melalui tortor ini dia kesurupan (siar-siaron) dirasuki roh-roh dari orang-orang yg pernah ditelan pohon itu dan mulai berbicara satu-persatu, mereka adalah roh dari: Si Aji Donda Hatahutan, Siboru Tapi Nauasan,  Datu Pulo Punjung nauli, atau si Melbus-elbus, Guru Manggantar porang, Si Sanggar Maolaol, Si Upar mangalele, Barita Songkar Pangururan.

Dan mereka berkata, wahai bapak pemahat, kau telah membuat ukiran dari rupa kami semua dan kami punya mata, tetapi tidak bisa melihat, kami punya mulut tetapi tidak bisa bicara, kami punya telinga tapi tidak mendengar, kami punya tangan tapi tidak bisa menggenggam. Kami mengutuk kamu, wahai pemahat!. Si datu menjawab, jangan kutuk dia tetapi kutuklah pisau ini tanpa pisau ini dia tidak dapat mengukir image kalian. Tetapi si pisau berbalik membalas, jangan kutuk aku, tetapi kutuklah si tukang besi. Kalau saja dia tidak menempa aku menjadi pisau, aku tidak akan pernah menjadi pisau. Si tukang besi menjawab, jangan kutuk aku tapi kutuklah Angin, tanpa angin aku tidak dapat menempa besi. Angin menjawab, jangan kutuk kami tapi kutuklah si Guru hatimbulan. ketika semua tertuju pada Guru hatimbulan, maka roh itu berkata melalui si datu, ‘ aku mengutukmu, ayah dan juga kamu Ibu, yaitu yang melahirkan aku’. Ketika Guru hatimbulan mendengar itu, dia menjawab balik’ jangan kutuk aku tetapi kutuklah dirimu sendiri. Kau yang jatuh ke dalam lubang dan terbunuh oleh pisau dan kamu tidak mempunyai keturunan. Lalu Roh itu berkata ‘baiklah, biarlah begini adanya, ayah, dan gunakanlah aku ‘ untuk: Menahan hujan, Memanggil hujan pada waktu musim kering, Senjata di waktu perang, Mengobati penyakit, Menangkap pencuri, dll. Setelah upacara itu, maka pulanglah mereka masing-masing.

Referensi :

Nurelide. 2007. Meretas Budaya Masyarakat Batak Toba dalam cerita sigale – Gale. Tesis. hal 29

dikutip dari : https://www.google.com/amp/s/www.gotravelly.com/blog/sejarah-terciptanya-danau-toba-dan-pulau-samosir/ Diakses Pada Tanggal 19 Juni 2021, Pukul 10.43 Wib.

dikutip dari ://siraitmargaku.blogspot.com/2013/01/asal-mula-tungkot-tunggal-panaluan.html Diakses pada Tanggal 19 Juni 2021, Pukul 10.56 Wib.

dikutip dari : https://sibolgapos.com/2018/09/27/asal-mula-tongkat-tunggal-panaluan/amp/ Diakses Pada Tanggal 19 Juni 2021, Pukul 10.57 Wib.

dikutip dari : https://id.m.wikibooks.org/wiki/Kumpulan_Cerita_Rakyat/Asal-Usul_Danau_Toba Diakses pada Tanggal 19 Juni 2021 Pukul 11. 00 Wib.