HIKAYAT / LEGENDA

Kabupaten samosir merupakan kabupaten yang memilki sebuah legenda yang masih diturunkan sampai saat ini. legenda tersebut masih hangat dalam kehidupan masyarakat batak toba di samosir. salah satu legenda yang berasal dari kabupaten samosir ialah legenda danau sidihoni yang dikenal sebagai danau yang menyimpan mistis karena berada di pulau di atas danau yang terletak di kecamatan pangururan, kabupaten samosir.

1. Legenda Danau Sidihoni

Dahulu kala pada masa itu, di desa Hutabange hiduplah sepasang suami  istri, yang bernama Ompung Sawangin Simalango dan istrinya boru Malau (pase).  Dulunya desa tersebut adalah hutan rawa dan belum berpenghuni. Mereka hidup  rukun hingga mempunyai 6 anak, 4 laki-laki dan 2 perempuan. Adapun nama anak Tuan Simalango yang sekarang dikenal ialah: Op.Mandalahat, Op.Haulian, Op. Saudungan, Op.Hutapir, Op. Tinambam Boru, dan Op. Naibaho Siahaan. Karena dulu kala kebutuhan pangan masih sulit untuk didapatkan, mereka  hanya mengharapkan ubi yang mereka tanam untuk bertahan hidup. Di Hutabange ada tanah yang bisa dimakan, namanya tanah bange. Terkadang jika sudah tidak ada ubi yang bisa dimakan, mereka makan tanah yang bisa dimakan tersebut. Begitu-begitu sajalah kehidupan keluarga Ompung Sawangin Simalango hingga anak-anaknya dewasa.Suatu ketika pergilah Ompung Sawangin Simalango ke hutan belantara yang belum pernah ia datangi di desa tersebut, dan ia menemukan genangan air yang kecil ditengah hutan belantara itu. Awalnya ia hanya berfikiran itu hanya genangan air kecil saja, dan tak akan mungkin bisa menjadi luas. Dan beberapa hari setelah ia menemukan genangan air itu, pada malam harinya datanglah puting beliung dan hujan deras yang membuat hutan belantara tersebut tumbang. Setelah kejadian tersebut, Ompung Sawangin Simalango berdoa kepada Debata Mulajadi Nabolon agar tidak terjadi lagi puting beliung seperti beberapa hari lalu yang membuat semua hutan yang ada di desa Hutabange tumbang.

Setelah beberapa hari semenjak Ompung Sawangin Simalango berdoa, ia kembali lagi ke tempat hutan belantara yang tumbang tersebut. Dia menemukan genangan air yang awalnya kecil kini sudah bertambah luasnya, dan setelah melihat genangan air itu ia masih menganggap itu hal biasa dan ia kembali pulang. Setelah ia sampai dirumah, dia menemukan anaknya Op. Haulian duduk didepan rumah menunggu kedatangannya. “Kenapa kau di depan rumah?” kata Ompung Sawangin Simalango. Op. Haulian menjawab “ada yang ingin kukatakan, tapi kelihatannya bapak sangat lelah”. ”Iya anakku, nanti malam saja kita bicarakan yang mau kau omongkan ya”. “Iya pak” jawab Op. Haulian.Karena sudah tiba malam hari, berkumpul lah mereka sekeluarga untuk berbincang-bincang. “Jadi apa yang mau kau omongkan tadi?” Tanya Ompung Sawangin Simalango untuk membuka percakapan. “Begini pak, ada rencanaku untuk merantau ke desa lain” jawab Op. Haulian. “Merantau kemana rencanamu?” Tanya Ompung Sawangin Simalango lagi. “Ke daerah Simalungun pak” jawab Op.Haulian. “Coba tanya dulu kepada ibu, kakak dan adik-adikmu, apa mereka setuju atau tidak kau pergi merantau”jawab halus Ompung Sawangin Simalango. “bagaimana bu, abang, dan adek-adekku? Apa kalian setuju jika aku merantau?” tanya Op. Haulian kepada ibu dan saudaranya. “Jika harus merantau menurutmu yang terbaik untukmu, ya sudah pergilah merantau” jawab ibunya. Hati Op. Haulian pun senang ketika mendengar jawaban ibunya. “Kalian bang dan adekku?” tanya nya memastikan jawaban dari saudaranya. “Ya sudah kalau itu keputusanmu” kata saudaranya. Semakin senang lah Op. Haulian mendengar jawaban dari saudaranya. “Karena ibu, abang dan adik-adikmu telah menyetujui untuk kau merantau, ya sudah kau boleh merantau” jawab Ompung Sawangin Simalango memutuskan. “Terimakasih pak,mak, abang dan adik-adik” jawab op.haulian dengan bahagia. Esoknya tibalah hari yang ditunggu Op.Haulian untuk merantau. Pamit lah dia dengan keluarganya dan pergilah dia ke desa Simalungun. Ompung Sawangin Simalango dan keluarganya kembali lagi menjalani rutinitasnya setelah ditinggal merantau oleh anak dan saudaranya. Ketika ia dan anaknya ingin berladang, datanglah hujan deras sehingga mereka tidak bisa keluar rumah.

Keesokannya juga begitu, sehingga mereka tak ke ladang untuk beberapa hari. Dan pada suatu hari, cerahlah langit dan mereka pergi berladang. Ompung Sawangin Simalango pergi ke hutan belantara tersebutdan sangat terkejut ketika melihat genangan air itu semakin luas. Dan akhirnya Ompung Sawangin Simalango mempercayai ada yang aneh dari genangan air tersebut. Keesokan harinya Ompung Sawangin Simalango kembali lagi ke tempat genangan air itu dan membawa berupa sesajen seperti jeruk purut, daun sirih, itak putih, dan hitang niandalu. Sambil meletakkan sesajen tersebut, ia berdoa kepada Debata Mulajadi Nabolon supaya ia dan keluarganya terutama anaknya yang pergi merantau diberikan kesehatan dan rejeki yang cukup. Setelah kejadian tersebut, Ompung Sawangin Simalango semakin mempunyai banyak rejeki dan juga mendapat kesaktian yang ia percayai diterimanya dari Debata Mulajadi Nabolon. Hari makin hari genangan air itu semakin luas, sampai suatu ketika ia memberikan nama genangan air yang sudah luas itu menjadi Danau Sidiakoni. Yang artinya Sidiakoni ialah mangelek. Karena Ompung Sawangin Simalango sering berkunjung ke Danau Sidiakoni¸ sesekali dia mencoba memancing di danau itu. Dan tanpa ia sadari, ia sering mendapat ikan dari hasil pancingannya. Adapun ikan yang ia dapat berbeda-beda. Terkadang ia mendapat ikan gabus, ikan jair, ikan pora-pora dan ikan lele. Ia sangat bahagia dengan hasil pancingannya. Semenjak itu pula ia mengajak keluarganya untuk memberikan sesajen di pinggiran danau itu. Ia beserta keluarganya semakin sering memberikan sesajen disitu, karena ia menganggap rejeki yang ia dapati selama ini dari Sang Pencipta. Sampai akhirnya Ompung Sawangin Simalango membuat janji supaya Danau Sidiakoni tidak boleh dinodai kesakralannya oleh keturunannya ataupun penduduk yang akan bertempat tinggal disitu nantinya. Adapun salah satu janji. yang diucapkan Ompung Sawangin Simalango ialah: 1. Tidak boleh memperjualbelikan air danau sidiakoni. 2. Yang boleh memancing di danau tersebut hanya orang yang kurang mampu saja.

Dan karena janji Ompung Sawangin Simalango yang dulu kepada danau tersebut, sampai sekarang Danau Sidiakoni masih dijaga kesakralannya. Sampai suatu ketika untuk pertama kalinya Danau Sidihoni berubah menjadi sangat kering, adapun itu artinya ialah pertanda buruk bagi keturunan Ompung Sawangin Simalango ataupun bagi negaranya. Tepatnya setelah kejadian tersebut,pada tahun 1943 pasukan Belanda menjajah Indonesia. Pada saat Indonesia dijajah, pasukan Belanda mengganti nama Danau Sidiakoni menjadi Danau Sidihoni. Adapun nama itu diganti supaya lebih gampang diucap dan diingat. Begitu juga pada tahun 1944, pasukan Jepang kembali lagi menjajah Indonesia. Setelah pasukan Jepang selesai menjajah Indonesia, keturunan Ompung Sawangin Simalango memberi sesajen seperti yang pernah dilakukan Ompung Sawangin Simalango sebelumnya. Dan beberapa hari setelah itu, air Danau  Sidihoni kembali naik lagi. Dan setelah itu, pada tahun 1959, air Danau Sidihoni tidak kering melainkan berubah warna menjadi warna merah, hal itu memberikan tanda-tanda kepada keturunan Ompung Sawangin Simalango bahwa akan ada kejadian buruk yang akan datang. Kejadian tersebut ialah kedatangan organisasi PRRI ke Indonesia. Hal yang sama terjadi lagi pada tahun 1987 dan 1989 ketika perubahan orde baru ke reformasi. Yaitu pada saat Soeharto turun dari jabatannya sebagai Presiden RI. Dan pada tahun 2005 masa gempa di Pulau Nias, keturunan Ompung Sawangin Simalango melakukan ritual untuk danau Sidihoni agar kembali luasnya seperti semula. Adapun sesajen yang mereka berikan ialah kambing putih beserta gondang sabangunan. Biasanya mereka melakukan dari sipitu mata lalu ke danau Sidihoni dengan iringan gondang. Tahun ke tahun semakin banyak keturunan Ompung Sawangin Simalango tinggal di Hutabange. Dan mereka juga menggunakan air danau Sidihoni untuk keperluan sehari-hari mereka. Bahkan sampai sekarang, bukan hanya keturunan dari Ompung Sawangin Simalango saja yang menggunakan air itu, tetapi ada juga dari desa lain yang menggunakan. Desa tersebut ialah Lintong Ni Huta, Paraduan, Sijambur. Tak hanya itu, danau Sidihoni juga bisa digunakan oleh orang-orang yang dari luar daerah akan tetapi harus tetap sopan saat ingin menggunakan air danau ini.

Referensi :

Benedikta Simalanggo. 2018. LEGENDA DANAU SIDIHONI PADA MASYARAKAT BATAK TOBA: KAJIAN SOSIOSASTRA. Skripsi. Hal 29 – 34