Upacara Adat Merbayo

Sinopsis

Masyarakat Pakpak mengenal hubungan sistem kekerabatan yang sama dengan sistem filosofi orang Batak Toba yaitu Dalihan Natolu. Di Pakpak sendiri sistem kekerabatannya itu disebut juga Dalihen na Tellu. Unsur-unsur Dalihen na Tellu itu adalah dapat juga disebut Sulang Silima yang terdiri dari: Sukut, Dengan Sebeltek Situaen (saudara sekandung yang lebih tua), dengan Sebeltek SiKedeken (saudara sekandung yang lebih muda), Kula-kula/Puang (kelompok pihak pengantin perempuan) dan Berru ( kelompok pihak pengantin laki-laki ). Dalam rangkaian upacara adat perkawinan Pakpak dikenal adanya upacara adat merbayo, upacara merbayo itu sendiri merupakan sebuah upacara perkawinan disebut juga si tari-tari karena dilaksanakan sesuai tahap upacara adat dan kedua belah pihak memberi persetujuan penuh dan juga semua hak dan kewajiban di penuhi. Upacara merbayo atau sering juga di sebut sinina- nina mempunyai tahapan kegiatan yang harus di lakukan, awal dari rangkaian tahapan upacara adat ini yaitu dengan melakukan kegiatan menerbeb puhun, mengirit lalu kemudian dilanjutkan dengan bertunangan (mersiberen tanda burju), lalu setelah itu kegiatan yang dilakukan yaitu dengan membicarakan emas kawin (menglolo / mengkata utang). Menjelang hari upacara calon pengantin perempuan mendatangi kerabatnya (tangis sijahe atau tangis berru pangiren) dan pihak laki-laki mengumpulkan sumbangan dan musyawarah kerabat dengan melakukan makan bersama yang disebut juga dengan muat nakan peradupen.


Gambar 1 : Pengantin Suku pakpak

Dalam upacara ini, pihak laki-laki berkewajiban menyerahknan sejumlah emas kawin kepada pihak kerabat pengantin perempuan jenisnya dapat berupa barang bergerak atau tidak bergerak, seperti: kerbau, sawah, kebun, emas, uang dan sebagainya. Sebaliknya pihak kerabat perempuan juga berkewajiban membalas pemberian pihak kerabat pengantin laki-laki berupa beras, tipa-tipa, pisang, tebu, dan kue tepung (nditak). Dengan demikian prinsip berlangsungnya adat dalam upacara merbayo adalah prinsip timbal balik dengan saling membalas (reciprocity principle), hanya saja ada ketentuan yang harus di acu dalam timbal balik tersebut yang disebut dengan istilah ulang telpus bulung, yang artinya dari seginilai ekonomi harus lebih tinggi nilai yang di terimaoleh pihak kerabat pengantin perempuan.

Tahapan Upacara Adat Merbayo dalam masyarakat Pakpak

1. Memmere Emas Pilihen

Memere Emas pilihen dalam konteks menjelang perkawinan adalah khusus untuk meminta ijin dan persetujuan kepada paman karena kawin dengan anak perempuan orang lain. Hal ini menjadi wajib bila mana seorang laki-laki tidak kawin dengan anak perempuan pamannya (puhun). Perkawinan dengan pihak luar tersebut dinamakan dengan istilah mungkah uruk Pelaksanaanya dengan membawa makanan dan pakaian Sarung. Selain itu si keponakan dan orang tuanya wajib menanyakan apa yang menjadi kehendak keluarga pamannya. Sering sekali si paman meminta emas atau selimut atau jenis pakaian lainnya. Jenis makanannya adalah nasi dengan lauk ikan (ikan gemuh) yang dimasak khas (ikan binenem).

2. Mengeririt/Mengindangi

Mengeririt (meminang) berasal dari kata ririt, artinya seorang pemuda dan kerabatanya terlebih dahulu meneliti seorang gadis yang mau dinikahi. Mengindangi berasal dari kata indang yang artinya disaksikan atau dilihat secara langsung bagaimana watak dan kepribadian atau sifat – sifat si gadis. Pada zaman dahulu untuk mengetahui sifat tersebut, dibutuhkan waktu sekita 1-5 tahun. Perkenalan merekapun biasanya dengan cara menggunakan alat atau benda – benda yang memiliki arti simbolis. Misalnya si laki – laki meletakkan sisir (sori bandan) di mana kira – kira si gadis yang diidamkan tersebut biasa melintas, atau memberikan sesuatu benda melalui seorang janda. Hal seperti inilah yang sering dilakukan mereka selama proses mengeririt. Walaupun begitu belum tentu mereka pernah bertemu dan bicara langsung, karena proses mengeririt dominan dilakukan oleh orang tua atau kerabat dekatnya. Jaman dahulu sering terjadi seorang gadis yang telah diririt oleh seorang pemuda tapi tidak disetujui oleh orang tua, sehingga kecil kemungkinannya untuk jadi berumah tangga.

3. Tanda Burju ( Tunangan)

Salah satu tahapan menuju perkawinan dikenal dengan istilah mersibreen tanda burju adalah Kegiatan ini dilaksanakan sebelum pelaksanaan mengkata utang. Sebagai tanda kasih sayang dan tercapainya kesepakatan antar dua pihak, maka dilangsungkan pertukaran barang. Pihak si gadis sebagai saksinya adalah namberunya (adik atau kakak perempuan dari ayah), sedangkan dari pihak lakilaki saksinya adalah sinina (satu marga). Pada saat tunangan dilakukan pertukarang barang (cincin, kain dan lain-lain), kadang-kadang diakhiri dengan membuat ikrar atau janji yang disebut merbulaban atau bersumpah janji. Bila si perempuan ingkar janji, maka dia wajib mengembalikan barang yang diterima senilai dua kali lipat, tapi bila si pria yang ingkar janji maka barang yang diterima oleh perempuan tidak perlu dikembalikan.

4. Menglolo / Mengkata utang

Tahapan selanjutnya adalah Menglolo / Mengkata utang (menentuka emas kawin). Rombongan yang datang untuk menglolo atau mengkata utang disebut penglolo atau pengkata utang. Sebelum rombongan penglolo dan pengkata utang berangkat terlebih dahulu orangtua si calon pengantin perempuan mengundang keluarga dekat pengantin laki-laki. Informasi ini diperoleh berdasarkan laporan
dari namberu atau juru bicara kerabat si gadis. Mereka yang berkumpul terdiri dari Berru Mbelen (Takal peggu dan Ekor peggu), sinina dan para perkaing (yang berhak menerima emas kawin) dan menjelaskan kepada para kerabat apa saja yang perlu dimintakan sebagai emas kawin. Pada saat itu juga ditunjuk seorang guru bicara (persinabul) dari pihak perempuan dan sebagai tanda keseriusan kepadanya diberikan beras dan seekor ayam. Orang yang ditunjuk biasanya adalah dari kerabat semarganya yang paham akan adat. Inilah yang disebut dengan istilah mengampu persinabul, artinya bilamana tugas telah diserahkan kepada persinabul, maka tanggung jawab tentang proses menyampaikan keinginan kepada pihak pengantin laki-laki (peranak) dianggap telah syah secara adat.

5. Muat Nakan Peradupen dan Tragis Sijahe

Muat nakan peradupen adalah suatu cara yang dilaksanakan oleh keluaraga pengantin laki-laki untuk merumuskan dan memutuskan kewajiban masing-masing kerabat dalam pembayaran emas kawin yang telah disepakati oleh kedua belah pihak kerabat calon mempelai. Selain itu dalam kegiatan ini pihak kerabat saling mengumpulkan sumbangan berupa uang dari kerabat dekat kepada keluarga pengantin laki-laki. Dalam kegiatan ini yang diundang hanya kelompok berru dan sinina, sedangkan kelompok puang tidak di perbolehkan secara adat untuk menyumbang. Mekanismenya, pihak keluarga luas pengantin laki-laki mengundang dan menyuguhkan makanan. Setelah itu baru dejelaskan tentang maksud undangan tersebut dan dilanjutkan dengan bermusyawarah dan mengumpulkan sumbangan dari pihak kerabat yang diundang. Di lain pihak, calon pengantin perempuan didampingi oleh seorang rekanya muda-mudi (rading-rading) mendatangi kerabat dekatnya secara bergiliran yang tersebut dengan tangis sijahe atau tangis berru pangiren. Pihak kerabat dekat yang didatangi biasanya telah mengerti tujuan kedatangan tersebut lalu memberi hadiah kepada calon pengantin perempuan tersebut. Hadiahnya dapat berupa emas, pakaian maupun peralatan rumah tangga. Pada saat ini,umumnya si gadis tidak menangis lagi tapi langsung menyatakan tujuan kedatangan dan mohon pamit untuk berumah tangga kepada kerabat yang didatangi memberi makan lalu menyerahkan hadiah sesuai permintaan si gadis atau sesuai kemampuan ekonomi yang dimilikinya. Saat ini banyak anggota kerabat yang tidak paham dan tidak melaksanakan kewajibannya untuk memberikan hadiahnya kepada calon pengantin. Di lain pihak calon pengantin perempuan pun banyak yang tidak tahu haknya untuk mendapatkan dan menuntut haknya mendapatkan hadiah dari kerabat ketika dia hendak kiawin. Secara adat sebenarnya semua kerabat dekat calon pengantin perempuan wajib memberi cendramata atau hadiah kepada si calon pengantin tersebut.

Makna dan Tanda upacara merbayo

Di dalam masyarakat Pakpak upacara merbayo “ Perkawinan” memiliki ciri khas dari kebudayaannya yang mempunyai arti makna dan tanda dalam upacara merbayo. Upacara merbayo “perkawinan” ini memiliki Daliken na Tellu yang sering juga disebut Sulang Silima yakni Sinina situaen “Permangmang”, Sinina Pengah “Persinabul”, Sinina sikedeken “Sikuraja”, Puang “Kula-kula”, dan Berru. Upacara Merbayo “perkawinan” , kerabat dari kedua belah pihak harus memenuhi kewajiban, dan sebaliknya menerima hak-haknya. Secara adat pihak kerabat laki-laki menyerahkan emas kawin berupa uang, emas dan kain. Di lain pihak kerabat pengantin perempuan menerima emas kawin dengan kewajiban tertentu.

Video 1 : Upacara Adat Perkawinan Pakpak (Merbayo)

Daftar Pustaka :

Berutu, Lister. 2013. Mengenal Suku Pakpak di Sumatera Utara. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Budaya Pakpak: Medan

Banurea, Eva Yeni. 2015. Skripsi Sarjana. Upacara Ritual Menanda Tahun Di
Sada Rube Pada Masyarakat Pakpak: Kajian Fungsi Dan Makna. USU
Press: Medan

Bancin, breken. 2016. Skripsi Sarjana. UPACARA ADAT MERBAYO DALAM
MASYARAKAT PAKPAK : KAJIAN SEMIOTIK. USU Press: Medan