Rantai Distribusi Kopi Dalam Peningkatan Kesejahteraan Petani Kopi di Kabupaten Dairi

Sinopsis

Tradisi minum kopi menjadi sebuah kebudayaan bagi masyarakat baik di perkotaan maupun perdesaan. Hal ini didukung oleh semakin banyaknya usaha kafe dan perusahaan pengolahan kopi mulai dari skala home industry sampai skala multinational. Banyaknya usaha bisnis di bidang kopi melibatkan banyak pelaku usaha yang mendistribusikan kopi tersebut. Rantai distribusi kopi yang panjang mengakibatkan ketidakstabilan harga. Harga yang tidak stabil ini sangat dirasakan oleh petani kopi yang berperan sebagai produsen kopi.

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Dairi. Jenis kopi yang dihasilkan di kabupaten ini adalah jenis kopi arabika dan kopi robusta. Kedua jenis kopi ini memiliki rantai distribusi yang berbeda. Perjalanan kopi arabika lebih panjang dibanding kopi robusta. Kopi arabika diekspor ke luar negeri, sedangkan kopi robusta didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Pelaku usaha yang terlibat dalam distribusi kopi arabika di Kabupaten Dairi adalah petani, pengumpul kecamatan, pengumpul kabupaten, pedagang besar (toke), pabrik (PT.Wahana), dan eksportir. Bentuk kopi arabika yang dijual oleh petani adalah kopi cherry dan kopi gabah. Harga kopi arabika gabah yang diberlakukan di tingkat petani berkisar antara Rp 9.000,00 sampai Rp 13.000,00 per kg pada Bulan April sampai Bulan Juni. Kopi gabah ini dijual ke tiga pelaku usaha yang dekat dengan petani yaitu pegumpul kecamatan, pengumpul kabupaten, dan pedagang besar (toke). Petani dapat menjual kopi arabika dalam bentuk cherry kepada pengumpul kecamatan dengan harga sekitar Rp 3.800,00 per kg.

Gambar 1 : Kopi Sidikalang

Pengumpul kecamatan dan pengumpul kabupaten berfungsi untuk mengumpulkan kopi dari petani kemudian mendistribusikan kopi tersebut ke pedagang besar (toke) dan pabrik (PT. Wahana). Bentuk kopi yang diterima pedagang besar adalah kopi arabika gabah, sedangkan bentuk kopi yag diterima pabrik adalah kopi arabika cherry. Pedagang besar dan pabrik tersebut kemudian melakukan pengolahan kopi arabika dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan tiga jenis mesin (huller, ayak, dan suton). Bentuk kopi arabika yang dihasilkan menggunakan mesin ini adalah kopi arabika green bean siap ekspor. Kopi arabika green bean ini kemudian diekspor ke luar negeri melalui eksportir yang berada di Kota Medan.

Rantai distribusi kopi arabika lebih panjang dan bervariasi dibanding kopi robusta di Kabupaten Dairi. Kopi arabika didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan global sedangkan kopi robusta didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Pelaku usaha yang terlibat dalam distribusi kopi arabika adalah petani, pengumpul kecamatan, pengumpul kabupaten, pedagang besar (toke), pabrik (PT. Wahana), dan eksportir. Pelaku usaha yang terlibat dalam distribusi kopi robusta adalah petani, pengumpul kecamatan, pengumpul kabupaten, industri kopi bubuk, dan konsumen. Kesejahteraan petani kopi arabika lebih tinggi dibanding kesejahteraan petani kopi robusta. Petani arabika yang berada pada rantai distribusi pendek terdiri dari 91,67 persen tidak miskin dan 8,33 persen miskin, sedangkan petani arabika yang berada pada rantai distribusi panjang terdiri dari 76 persen tidak miskin dan 24 persen miskin. Petani robusta yang berada pada rantai distribusi pendek terdiri dari 50 persen tidak miskin dan 50 persen miskin, sedangkan petani robusta yang berada pada rantai distribusi panjang terdiri dari 37,5 persen tidak miskin dan 62,5 persen miskin. Persentase kemiskinan petani lebih tinggi pada rantai distribusi kopi panjang.

Video 1 : Kopi Sidikalang, Punya Karakter Khas dan Keasaman Rendah

Daftar Pustaka :

Prayitno, Hadi dan Arsyad Lincolin.Petani Desa dan
Kemiskinan. Yogyakarta : BPFE

Sajogyo. 1996. Garis Kemiskinan dan
Kebutuhan Minimum Pangan.
Yogyakarta : Aditya Media

Badan Pusat Statistik Kabupaten Dairi.
Kabupaten Dairi Dalam Angka
2012

Badan Pusat Statistik. Laporan
Bulanan Data Sosial Ekonomi
Edisi 34 Maret 2013