Seni Pertunjukan Ende-Ende Kipudung Sebagai Lagu Percintaan pada Masyarakat Pakpak

Sinopsis

Masyarakat Pakpak membagi musik kedalam tiga kategori yaitu: vokal, instrumen, dan gabungan antara vokal dengan instrumen. Dalam hal ini penulis tertarik mengkaji tentang salah satu vokal Pakpak. Masyarakat Pakpak memiliki alat musik yang dapat dimainkan secara ensambel maupun secara solo. Masyarakat Pakpak membagi alat musiknya secara folk taxonomies yang berdasarkan pada bentuk penyajian yang masih dibagi dalam dua kelompok yaitu: Gotchi dan Oning-oning, dan cara memainkan yang terdiri atas Sipaluun, Sisempulan, dan Sipiltiken. Sedangkan untuk semua jenis musik vokal masyarakat Pakpak memberi namaende-ende. Kemudian untuk membedakan jenis nyanyian yang satu dengan yang lain, dibelakang kata ende-ende tersebut dicantumkan nama nyanyian yang dimaksud. Misalnya; ende-ende merkemenjen yaitu nyanyian mengambil kemenyan; ende-ende memuro yaitu nyanyian pada saat menjaga padi dan tanaman-tanaman diladang. Selanjutnya ada yang disebut dengan ende-ende mardembas yaitu nyayian permainan dikalangan anak-anak usia sekolah. Dipertunjukkan pada malam hari pada saat terang bulan purnama di halaman halaman rumah. Mereka menari membentuk lingkaran, membuat lompatan-lompatan kecil secara bersama-sama berpegangan tangan, sambil melantunkan lagu-lagu secara chorus (koor) maupun solo chorus (nyanyian solo yang di sambut oleh koor). (sumber: tesis Naiborhu,Torang. 2002:57-65). Dan yang terakhir ada ende-ende kipudung (love song).

Ende-ende kipudung merupakan nyanyian percintaan bagi kaum muda-mudi di Pakpak, nyanyian ini merupakan suatu bentuk ekpresi ungkapan isi hati terhadap lawan jenis. Bapak Atur Pandapotan Solin mengatakan ende-ende ini sudah ada sekitar tahun 1920-an. Pada zaman itu para muda-mudi belum bebas untuk bertemu secara langsung dikarenakan faktor adat istiadat yang sangat berpengaruh, Namun ada satu kegiatan dimana mereka dapat saling bertemu dan berkenalan, kegiatan tersebut adalah kegiatan menumbuk padi. Kegiatan menumbuk padi ini hanya dilaksanakan pada malam hari pada saat bulan purnama datang dan dilakukan dihalaman rumah para gadis secara bergantian. Secara tekstual nyanyian ini banyak menggunakan bahasa-bahasa simbolis yang mengandung makna makna tertentu. Tujuan ende-ende kipudung ini adalah sebagai ajang mencari jodoh bagi para muda-mudi Pakpak pada zaman dahulu. Nyanyian ini juga bisa dikatakan sebagai sarana komunikasi dan sebagai ajang bersilaturahmi bagi mereka. Ende-ende kipudung ini merupakan nyanyian logogenic yang lebih mengutamakan teks. Pada umumnya teks yang disajikan menggunakan unsurunsur pantun tradisional Pakpak yang didalamnya terdapat bait, sampiran, isi, rima (persajakan), serta yang tidak kalah penting memiliki unsur musikal dalam penyajiannya.

Asal-usul Ende Kipudung

Pada mulanya ende-ende kipudung inimerupakan nyanyian percintaan yang ada pada masyarakat Pakpak Bharat, yang diketahui sudah ada sejak abad ke-20, nyanyian ini digunakan sebagai bentuk ekspresi ungkapan isi hati mereka (wawancara dengan Bapak Atur Pandapotan Solin, April 2018). Pada zaman dulu para muda-mudi di Pakpak tidak bebas untuk bertemu dikarenakan faktor adat istiadat yang sangat berpengaruh besar, sehingga banyak dari gadis-gadis di pakpak yang menikah dengan dijodohkan atau dinikahkan berdasarkan pilihan orang tua mereka. Namun ada salah satu kegiatan dimana pemuda dan pemudi pakpak menemukan dan menentukan pilihannya sendiri, kegiatan itu adalah kegiatan menumbuk padi (manutu page, manjabet page). Dalam kegiatan ini para gadis dan pemuda bertemu dan saling berkenalan, biasanya pada saat malam bulan purnama yang dilakukan di halaman rumah. Dalam kegiatan ini para gadis menggunakan lesung sebagai alat untuk menumbuk padi, namun bagi para pemuda bunyi lesung yang dipukul oleh para gadis merupakan sebuah pertanda (kode) bagi mereka, karena setiap kali para pemuda itu mendengar suara pukulan dari lesung tersebut, mereka akan mengetahui dimana para gadis sedang berkumpul.

Gambar 1 : Penyanyi Ende Kipundung

Setelah mendengar darimana asal suara, para pemuda akan langsung mengikutinya dan kemudian para pemuda mulai melirik untuk mencari gadis mana yang akan di ajak berkenalan. Setelah para pemuda menemukan gadis mana yang ingin mereka ajak berkenalan, mereka akan mulai menanyakan tentang siapa gadis tersebut dengan memainkan lobat atau kecapi dan bernyanyi. Si gadis yang mendengar nyanyian tersebut akan membalas dengan nyanyian juga. Setelah selesai diadakannya kegiatan menumbuk padi tersebut, para gadis akan tinggal di rumah seorang barse, lalu para pemuda akan tinggal di sebuah bale. Setelah si pemuda pergi, si gadis akan menggingat lantunan lagu yang mereka nyanyikan, begitu juga sebaliknya dengan si pemuda. Mereka akan saling menyimpan nyanyian tersebut didalam hati. Barse disini sangat berperan penting dalam hubungan keduanya, karena barse yang akan mengatakan kepada pihak kedua keluarga jika mereka sudah saling cocok dan ingin melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Pada saat sekarang, nyanyian ini sudah tidak dipergunakan dalam kegiatan sehari-hari lagi dikarenakan adanya perkembangan jaman yang membuat para muda-mudi bebas untuk bertemu. Tetapi belakangan ini kegiatan manutu page sudah mulai diperkenalkan lagi dalam bentuk seni pertunjukan yang ditampilkan dengan konsep yang berbeda pada acara pesta budaya masyarakat Pakpak. Artinya, sebagai seni pertunjukan kegiatan ini tidak lagi terikat pada tempat, waktu, dan situasi sebagaimana dahulu.

Gambar 2 : Pemusik Ende kipundung

Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa pertunjukan ende-ende kipudung dapat dilaksanakan di atas panggung ataupun di dalam rumah. Dahulu seorang pemuda yang ingin mencari jodohnya sendiri, biasanya akan mendatangi kelompok-kelompok wanita yang sedang menumbuk padi. Sebagaimana yang sudah disebutkan sebelumnya, apabila pemuda sudah menemukan gadis yang tepat maka ia akan mencoba memperkenalkan diri lewat nyanyian dan si gadis menerima perkenalan tersebut. Kejadian seperti ini dapat berlangsung secara berulang sampai diantara mereka menemukan adanya kecocokan dan berlanjut pada tahap yang lebih serius (meminang). Namun setelah ende-ende kipudung disajikan sebagai suatu pertunjukan, maka nilai-nilai tradisi yang terkandung pada ende-ende tersebut berubah. Perubahan yang terjadi antara lain, adanya konsep, perubahan tempat dan waktu, dan menjadi sarana hiburan bagi masyarakat.

Dalam pertunjukan ende-ende kipudung penyanyi dan pemusik sudah mempersiapkan diri diatas panggung. Pemain musik terlebih dahulu memainkan alat musiknya kemudian penyanyi pria terlebih dahulu bernyanyi dan dijawab oleh penyanyi wanita. Nyanyian ini dilakukan dengan cara bersahut-sahutan. Setelah mereka selesai melakukan pertunjukan seluruh pemain kembali
kebelakang panggung. Seni pertunjukan merupakan sebuah tontonan yang memiliki nilai seni dimana tontonan tersebut disajikan sebagai pertunjukan di depan penonton. Kajian pertunjukan adalah sebuah disiplin baru yang mempertemukan ilmu-ilmu seni (musikologi, kajian tari, kajian teater) di satu titik dan antropologi di titik lain dalam satu kajian inter-disiplin yaitu: etnomusikologi, etnologi tari dan performance studies (Murgiyanto 1995: 3).

Daftar Pustaka :

Banjarnahor, Erni Juita, 2014. Tangis Beru Si Jahe di Desa Sukaramai,
Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat: Kontinuitas dan
PerubahanPenyajian, Kajian Tekstual, dan Musikal. Medan:
Departemen Etnomusikologi FIB USU (Skripsi Sarjana).

Banoe, Pono.2003. Kamus Musik. Penerbit Kanisius.

Barthes, R, (1967). Elements of Semiotics. London: Cape.

Berutu, Mandiri, 2016. Kajian Organologi Lobat Pakpak Karya Mardi Boang
Manalu di Desa Aornakan Kecamatan Pergetteng-getteng Sengkut,
Kabupaten Pakpak Bharat. Medan: Jurusan Sendratasik FBS
UNIMED (Skripsi Sarjana)