TAMAN WISATA IMAN (TWI) SEBAGAI SARANA PEREKAT KERUKUNAN HIDUP BERAGAMA DI KABUPATEN DAIRI

Sinopsis

Kebudayaan yang beragam di Kabupaten Dairi juga diikuti dengan keberagaman Agama yang dianut oleh masyarakat. Perbedaan keyakinan merupakan hal yang wajar di negara Indonesia mengingat negara ini memang dibangun dengan perbedaan, begitupun dengan wilayah Dairi yang ditempati oleh berbagi masyarakat yang menganut ajaran yang berbeda. Perbedaan agama di daerah Dairi sudah ada sejak lama, keberagaman ini hampir tersebar secara merata di seluruh daerah Dairi. Perbedaan ajaran agama memang sering menimbulkan perbedaan pandangan akan suatu hal yang tidak jarang memunculkan perdebatan yang sering pula berujung pada konflik. Kabupaten Dairi pada awalnya didiami oleh masyarakat Pak-pak Bharat yang sebagaian besar masyarakatnya menganut agama Islam, namun secara perlahan mengalami percampuran dengan para pendatang yang pada umunya berasal dari daerah Tapanuli maupun Silalahi yang melihat potensi tanah yang dimiliki oleh daerah Dairi. Daya tarik dan potensi alam yang dimiliki oleh tanah Dairi menjadi alasan besar masyarakat luar mulai berdatangan dan menetap di daearah Dairi dan menyebabkan daerah Dairi menjadi lebih berwarna akan perbedaan-perbedaan yang sebelumnya tidak dikenal, baik perbedaan budaya maupun agam yang secara perlahan melahirkan keberagaman di Kabupaten Dairi. Hingga saat ini ada 5 agama yang mendiami daerah Dairi.Pada zaman Pemerintahan Kolonial Belanda, politik Belanda selalu berusaha agar tanah jajahan dapat memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya kepada negara Induknya. Berbagai tindakan yang telah mereka lakukan untuk mengeksploitasi kekayaan tanah jajahan, tanpa mempertimbangkan aspek prikemanusiaan dan keadilan. Sebelum adanya Politik Etis Pemeritah Belanda sangat membatasi penyelenggaraan sekolah bagi penduduk pribumi, sehingga jumlah sekolah sangat terbatas.

Gambar 1 : Taman Wisata Iman

Pembangunan Taman Wisata Iman dilatarbelakangi oleh ide bapak Master Parulian Tumanggor yang pada saat itu menjabat sebagai Bupati Dairi dan juga oleh pemuka adat yang merasa kalau keindahan alam Dairi sudah saatnya untuk dimanfaatkan untuk hal yang lebih menguntungkan dan bermanfaat bagi daerah. Selain untuk memanfaatkan keindahan alam dari Dairi para pendiri Taman Wisata Iman juga mempertimbangkan konsep yang sesuai dengan kondisi yang ada pada saat itu. Kehidupan kerukunan masyarakat Sitinjo semenjak adanya TWI semakin membaik dan terus meningkat, memang tidak butuh watu yang singkat untuk mewujudkan hal tersebut, butuh waktu dan proses yang cukup panjang, namun kini bisa kita lihat secara langsung bagaimana masyarakat sudah mampu hidup berdampingan dalam perbedaan agama yang mereka terapkan untuk dicontoh oleh para wisatwan yang berkunjung ke lokasi wisata TWI. Salah satu bentuk kerukunan yang nampak pada masyarakat adalah bagaimana sikap mereka dalam menghadapi ancaman dari luar yang berusaha merusak ketenangan dan kerukunan yang ada di wilayah Sitinjo. Pernah terjadi suatu inseden yang sempat menghebohkan daerah Dairi yaitu masuknya ajaran agama Kristen Saksi Yahowa yang mengajarkan hal-hal lain yang berbeda dengan ajaran agama Kristen maupun Katolik. Melihat ancaman ini masyarakat TWI secara bersamasama saling menjaga satu sama lain dan saling mengingatkan akan bahaya dari ajaran tersebut. Tidak memandang perbedaan agama yang ada baik Islam, maupun Katolik secara bersama menolak ajaran tersebut yang berusaha memecah belah mereka. Selain hal tersebut kerukunan antar umat beragama di daerah Sitinjo juga nampak dari perilaku masyarakat yang saling mengahargai setiap acara keagamaan yang dilakukan di wilayah Sitinjo maupun di dalam TWI, mereka akan secara bersama membantu persiapan acara tersebut demi melancarkan acara yang akan dilaksanakan, dan dalam hal ini setiap warga ikut membantu tanpa memandang apakah acara tersebut dijalankan oleh orang yang berbeda keyakinan dengan dia. Keindahan kehidupan masyarakat Sitinjo merupakan pemandangan hidup dari keberadaan TWI yang mengedepankan toleransi ataupun kerukunan antar umat beragam untuk menjaga kedamaian yang ada dan terus meningkatkan keadaan tersebut.

Gambar 2 : Taman Wisata Iman (TWI)

Setiap akhir tahun di dalam TWI akan diadakan pesta besar yaitu pesta seni maupun budaya yang di dalamnya akan ada penampilan dari masyarakat Dairi yang menampilakn berbagai macam kesenian agama maupun budaya dan perbedaan akan sangat tampak di dalamnya. Acara ini lahir dari ide masyarakat Sitinjo yang berencana untuk menunjukkan kepada para wisatawan bahwa perbedaan itu mampu memberikan pengaruh yang luarbiasa dan sangat berguna jika kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penulis sendiri pernah secara langsung menyaksikan acara seni budaya ini, dan memang sangat banyak penampilan yang bervariai dari masyarakat sekitar. Dalam hal ini TWI dipilih sebagai tempat pelaksanaan acara tersebut karena memang sangat sesuai dengan konsep kerukunan agama yang ada dalam objek wisata TWI. Dalam penampilannya nanti akan ada acara seni bernyanyi, akan ada juga penampilan drama, dan ada juga penampilan vokal group dari banyak sekolah di Dairi. Acara ini sudah rutin dilaksanakan dan menjadi ikon yang menambah jumlah wisatwan pada setiap akhir tahunnya. Pelaksanaan acara ini tentu disukseskan oleh masyarakat sekitar TWI secara bersama-sama tanpa memandang perbedaan dengan mengedepankan tujuan yang sama untuk sebuah bukti yang nyarta dari kehidupan kerukunan yang mereka jalankan. Kerukunan yang terasa di dalam masyarakat Sitinjo diharapkan juga mampu dirasakan oleh masyarakat seluruh Indonesia.

Video 1 : PROFIL TAMAN WISATA IMAN KABUPATEN DAIRI

Daftar Pustaka :

Berita Dairi. 2009. Taman Wisata Iman Sidikalang. Diakses dari: http//www.beritaDairi.com/sidikalang

Pemkab Dairi. 2009. Profil Wilayah Kabupaten Dairi. Dairi

Ali, Mursyid. 2011. Potret Kerukunan Umat Beragama Di Kota Malang Jawa Timur.
Jurnal Harmoni Hal.306-319 Diakses Pada 25 Januari 2017