Tatak Siar-Siaren pada Masyarakat Pakpak Bharat

Sinopsis

Kebudayaan yang di miliki oleh masyarakat setempat merupakan warisan dari leluhur yang telah lebih dahulu menempati daerah–daerahnya Warisan dari leluhur inilah kemudian menjadi ciri khas dari suku–suku yang ada. Warisan leluhur tersebut berupa tarian, lukisan, tata cara upacara dan pakaian. Melalui warisan tersebut, masyarakatnya melakukan kegiatan rutinitas sesuai peninggalan, yang masih di lakukan hingga saat ini. Akan tetapi kebudayaan yang ditinggalkan para leluhur pada saat ini sudah banyak mengalami perubahan dan bahkan mengalami kepunahan. Hal ini diakibatkan adanya pengaruh oleh kemajuan zaman dan tekhnologi.Salah satunya adalah kesenian yang dimiliki masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat, yaitu seni tari. Di dalam bahasa Pakpak, tari disebut tatak. Beberapa tatak yang berada di daerah Papak Bharat adalah: Tatak Balang Cikua, Tatak Nantampuk Emas, Tatak Ranggisa, Tatak Garo–Garo, Tatak Mengerik, Tatak Perampuk–Ampuk, Tatak Mendedah, Tatak Moncak (tari pencak silat), Tatak Graha (persiapan perang) dan Tatak Siar–Siaren. Demikian banyak tatak yang tumbuh dan berkembang di daerah Pakpak Bharat, Tatak Siar-Siaren akan menjadi topik dalam tulisan ini.Tatak Siar–Siaren adalah salah satu jenis tari pada masyarakat Pakpak Bharat. Pada masa dahulu sebelum masuknya agama, Tatak Siar–Siaren sangat berkembang. Masyarakat Pakpak Bharat yang masih mempercayai animisme dan dinamisme pada waktu itu, membuat masyarakat Papak Bharat mempercayai tindakan-tindakan yang di lakukan di dalam Tatak Siar-Siaren. Tatak Siar-Siaren selalu di lakukan untuk mengetahui keadaan kampung yang akan datang. Akan tetapi pada saat agama masuk sekitar tahun 800 ke Pakpak Bharat, Tatak Siar-siaren sudah tidak sering lagi di tampilkan karena Tatak Siar-Siaren bertentangan dengan agama. Pada tahun 1986, pemerintahan Pakpak Dairi mengadakan pergelaran kesenian untuk tari yang tidak pernah di tarikan lagi ataupun yang sudah mengalami kepunahan. Masyarakat di desa Pardomuan Pakpak Bharat menarikan atau memunculkan kembali Tatak Siar-Siaren. Tatak Siar– Siaren di tarikan kembali akan tetapi bentuk penyajiannya mengalami perubahan.

Pada zaman dahulu, Tatak Siar-Siaren pada masyarakat Pakpak Bharat adalah untuk kebutuhan masyarakat tersebut berhubungan dengan roh-roh dan alam gaib. Tatak Siar-Siaren tidak diketahui siapa penciptanya, karena Tatak Siar Siaren adalah milik masyarakat Pakpak Bharat secara komunal. Berdasarkan hasil wawancara dengan nara sumber Jamosin Padang (22 januari 2012), Tatak Siar-Siaren tercipta sebelum agama masuk. Tidak dapat dipastikan bahwa Tatak Siar-Siaren tercipta pada tahun berapa. Akan tetapi Tatak Siar-Siaren sudah berkembang sebelum agama masuk ke Pakpak Bharat sekitar tahun 800. Tatak Siar-Siaren biasanya di lakukan sebagai ritual atau upacara untuk dapat berkomunikasi dengan alam gaib. agar masyarakat dapat mengetahui keadaan kampungnya pada waktu yang akan datang.Pada zaman dahulu untuk mengetahui keadaan kampung kedepannya, masyarakat Pakpak Bharat selalu melaksanakan upacara. Tatak Siar-Siaren adalah tari dalam upacara yang sakral tersebut. Oleh karena Tatak Siar-Siaren dari upacara yang sakral, maka tari ini di pertunjukan hanya dalam acara tertentu yang di minta dan sudah di sepakati oleh masing-masing Sukut Ningtalu (ketua marga). Setelah para Sukut Ningtalu berkumpul, para Sungkut Ningtalu akan membicarakan kapan diadakan Tatak Siar-Siaren. Para Sungkut Ningtalu bukan hanya membicarakan kapan diadakan Tatak Siar Siaren, akan tetapi mereka juga membicarakan siapa yang akan menjadi Siar-Siar (pemberitahu). Kemudian siapa yang berperan sebagai pembawa ayam merah dan Datu (dukun). Para Sungkut Ningtalu sangat berperan dalam pertunjukan Tatak Siar-Siaren untuk mempersiapkan semua kebutuhan.Orang yang di pilih dalam pertunjukan Tatak Siar-Siaren adalah orang yang di anggap pantas atau layak untuk menarikannya. Jumlah penari dalam Tatak Siar-Siaren ada 3 yang terdiri dari Siar- Siar, pembawa ayam dan Datu. Orang yang terpilih menjadi Siar-Siar adalah Saudara Senina (suami dari anak perempuan Sungkut Ningtalu yang sering di sebut adalah menantu laki-laki). Akan tetapi, tidak semua saudara senina biasa menjadi Siar-Siar, karena yang akan di pilih menjadi Siar-Siar adalah orang yang tubuhnya bisa di rasuki roh. Senina yang terpilih, tubuhnya di anggap bersih. Hal ini di lihat melalui keseharian atau kebiasaan Senina dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang membawa ayam merah adalah Saudara Senina juga. Sedangkan yang menjadi Datu adalah dukun yang benarbenar memiliki kekuatan yang mampu memanggil dan mengeluarkan roh-roh yang akan masuk ke dalam tubuh Siar-Siar.

Gambar 1 : Siar-siar sedang mengambil ayam
Gambar 2 : Siar-siar berada di tengah, mengambil ayam dari pembawa ayam.
Sedangkan datu melakukan pengurasan kepada Siar-siar.

Ketika 3 penari masuk ke tengah kumpulan masyarakat, di iringi musik yang keras dan tidak beraturan. Sesudah berada di tengah-tengah masyarakat, Datu yang memegang atau membawa pangurasan (pembersihan) memercikan pangurasan kepada Siar-Siar yang berguna untuk memanggil roh-roh gaib yang memasuki tubuh si Siar-Siar. Penanda bahwa Siar-Siar sudah di rasuki adalah gerakan yang di lakuakan seperti orang mabuk dan si Siar- Siar langsung menerkam atau mengambil ayam merah dari tangan penari yang membawa ayam merah. Siar-Siar langsung mengigit dan menghisap darah dari leher ayam merah tersebut. Setelah Siar-Siar menghisap darah dari ayam merah, Siar-Siar semakin menggerakan tubuhnya seperti orang mabuk.Ketika Siar-Siar tersebut sudah dirasuki roh-roh gaib, kemudian para Sungkut Ningtalu menanyakan apa-apa saja yang akan terjadi di kampung itu. Siar-Siar menjawab semua pertanyaan yang di tujukan kepada dirinya bahkan Siar-Siar akan memberi tahu apa saja yang harus dilakukan para Sungkut Ningtalu untuk mencegah malapetaka yang akan terjadi di kampung itu. Ada kalanya, Siar-Siar memberi tahu kabar baik ataupun buruk tanpa di pertanyakan oleh Sungkut Ningtalu. Pada saat Sungkut Ningtalu tidak bertanya dan Siar-Siar juga tidak ada yang di sampaikan, Siar-Siar tetap menari seperti orang yang sedang mabuk sampai Datu tadi marpispis (memercikan) pangurasan kepada Siar-Siar untuk kembali sadar.

Musik pengiring Tatak Siar-Siaren

Musik pengiring dijadikan sebagai penguat suasana untuk memperlancar komunikasi dengan roh-roh yang diharapkan hadir. Volume suara yang keras, berirama cepat dan tidak beraturan diyakini dapat mengundang roh-roh masuk ke tubuh siar-siar. Alat musik yang di gunakan dalam pelaksanaan Tatak Siar-Siaren adalah genderang dan gung. Genderang dimainkan oleh 3 orang dengan tempo dan irama yang berbeda, dan gung dimainkan oleh 2 orang yang saling mengisi. Genderang yang dimaksud dalam musik tradisional etnis pakpak adalah gendang satu sisi yang berjumlah 9 buah dan ditempatkan dalam satu rak. Alat ini dipukul dengan menggunakan stik pemukul. Gung terdiri dari 4 buah dengan nama sebagai berikut:
(a) Gung Panggora (berukuran besar),
(b) Gung Poi-Poi (berukuran menengah),
(c) Gung Puldep (berukuran sedang), dan
(d) Gung Pong-Pong (berukuran kecil).

Gambar 3 : Pemusik Tari tatak siar-siaren

Daftar Pustaka :

Hadi, Sumandiyo.2005. Sosiologi Tari.
Yogyakarta: Pustaka Citra.

Koentjaningrat. 1977. Pengantar Ilmu
Antropologi. Jakarta. Aksara Baru

Manik, Mansehat. 2011. Seni Budaya
Pakpak Kelas VII. Medan: Penerbit
Mitra

seni budaya Pakpak Kelas VIII. Medan: Penerbit
Mitra.

Seni Budaya Pakpak Kelas IX. Medan: Penerbit
Mitra.