Upacara Adat Mendegger Uruk pada Masyarakat Pakpak Bharat

Sinopsis

Secara umum masyarakat Pakpak mengenal dua jenis kerja adat yaitu kerja njahat dan kerja baik.Kerja baik dilakukan untuk kerja adat sukacita, di mana sebelumnya sudah ada dalam perencanaan.Sedangkan kerja njahat artinya jenis upacara yang sebelumnya tidak ada perencanaan apa-apa bahkan tergolong upacara yang dilakukan dengan keadaan paksaan sehingga suasananya dalam keadaan dukacita atau tidak menyenangkan. Contoh kerja baik dalam masyarakat pakpak yaitu upacara perkawinan, masa hamil (memere nakan merasa dan nakan pagit), melahirkan (mangan balbal), upacara melahirkan (messur-messuri), upacara menggunting rambut (menggosting), upacara menanda tahun, upacara menerbeb, upacara mendomi sapo, upacara mendegger uruk dan lain-lain. Sedangkan contoh untuk kerja njahat adalah upacara kematian seperti ncayur tua, mangokal tulan, menutung tulan, dan mengerumbang. Mendegger uruk merupakan salah satu upacara syukuran dan persembahan yang dilakukan oleh masyarakat Pakpak kepada penguasa. Pesertanya biasanya gabungan dari kuta atau aur dan juga ada dari satu kumpulan marga tertentu.Dalam kamus bahasa Pakpak mendegger uruk dapat diartikan dengan “menggoyang bukit”. Upacara mendegger uruk dilaksanakan selain berfungsi untuk acara syukuran, juga dilaksanakan karena raja tanah (Pakpak : permang mang) telah memperhatikan hal-hal berikut : (1) masyarakat/ marga semakin berkurang, (2) perekonomian dan hasil pertanian menurun, (3) kesejahteraan berkurang, (4) rasa sosial berkurang , dan lain-lain. Pihak-pihak yang terlibat di dalam upacara mendegger uruk ini terdiri dari masyarakat setempat, tokoh-tokoh adat, pihak berru, senina, dan puang. Jalannya upacara biasanya diawali dengan musyawarah besar yang dalam masyarakat Pakpak disebut runggu. Dan biasanya yang dimusyawarahkan adalah tentang pelaksanaan besar kecilnya upacara, waktu pelaksanaan, dan juga membahas tentang masalah pendanaan saat berlangsungnya upacara.

Pengertian Adat Mendegger Uruk

Secara harafiah mendegger uruk dapat diterjemahkan dengan “menggoyang bukit” artinya selain bergembira ria atas berkat yang diperoleh, juga untuk mengusir segala penyakit yang akan menimpa, menghindari perselisihan, gangguan mahluk gaib dan mala petaka lainnya untuk itu maka diperlukan suatu upacara adat yaitu berdoa (Pakpak : mersodip) kepada penguasa agar diberkati dan terlindungi dari mara bahaya.

Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Upacara Adat Mendegger Uruk

Dalam pelaksanaan upacara adat mendegger uruk banyak pihak pihak yang terlibat di dalamnya, mulai dari anak-anak hingga dewasa akan menghadari upacara ini. Namun demikian ada individu individu atau kelompok-kelompok tertentu yang perannya lebih besar atau menonjol bila dilihat dari segi tingkat keaktifan dan tanggung jawabnya. Pihak- pihak yang terlibat tersebut meiliki fungsi tersendiri di dalam upacara adat mendegger uruk itu. Adapun pihak- pihak yang terlibat dalam pelaksanaan upacara adat mendegger uruk adalah sebagai berikut :

1. Puang
Puang terdiri dari puang bena (kula-kula), puang pengamaki, puang perempung-empung, puang perbapa-bapa, dan puang karina. Fungsi puang dalam upacara adat mendegger uruk adalah pembawa doa (sodip), dan juga dulu fungsinya untuk memasu-masu berru (memberkati pihak dara). Puang merupakan unsur yang paling dihormati dalam struktur masyarakat, dimana kedudukannya sering dibuat sebagai penengah, pemimpin dalam sebuah masalah atau acara dan dianggap sebagai pemberi berkat oleh masyarakat. Dengan demikian, puang juga disebut dengan istilah Debata Ni Idah (Tuhan yang dilihat).

2. Berru
Berru terdiri atas takal peggu, ekur peggu, berru perempung-empung, berru perbapa-bapa. Di dalam upacara adat mendegger uruk, berru memiliki peran sebagai pemberi dana (gugu) dan juga gegoh atau perkebbas (pelayan). Karena berru memiliki peran paling banyak sehingga dalam masyarakat Pakpak memiliki sebuah peribahasa yaitu “babah mi jolo, tundun mi podi” yang artinya untuknya semua.

3. Dengan sebeltek
Dengan sebeltek di bagi lagi menjadi : ciranggun isang-isang, pertulan tengan, perekur-ekur. Fungsi dengan sebeltek dalam upacara adat mendegger uruk adalah sebagai sukut ulan (panitia).

4. Sipemerre
Yaitu semua yang hadir selain dengan kuta (tamu undangan) yang berfungsi untuk membantu dalam pendanaan.

Tahap-Tahap Pelaksanaan Upacara Adat Mendegger Uruk

a. Runggu
Sebelum upacara dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan runggu (musyawarah bersama), yang menghadiri runggu ini adalah seluruh tokoh adat dalam upacara tersebut seperti pertaki, yang merupakan pemimpin dalam runggu tersebut. Runggu dilakukan beberapa kali hingga segala keputusan tercapai, biasanya runggu dilaksanakan dua bulan sebelum upacara adat mendegger uruk terlaksana. Sebelum runggu terjadi biasanya ada tokoh adat yang melihat beberapa kejadian yang membuat tokoh adat tersebut menginginkan sebuah runggu guna untuk mendiskusikan mengenai permasalahan tersebut. Kemudian tokoh adat tersebut mendatangi beberapa tokoh adat yang terlibat dalam tempat atau marga tersebut. Jika unsur-unsur tokoh masyarat telah berkumpul maka runggu dilaksanakan guna membahas permasalahan yang terjadi dan bagaimana kelanjutannya di kemudian hari.

b. Pembersihan Lapangan Tempat Acara
Pembersihan lapangan tempat acara dilakukan dengan gotong royong oleh simatah daging (pemuda-pemudi). Para simatah daging bahu membahu melakukan pembersihan hingga pemasangan teratak (tenda) di lapangan yang telah ditentukan. Simermaju (anak gadis) sebagian juga bertugas sebagai pembuat makanan ringan hingga makan siang. Lapangan yang dipakai merupakan tanah luas yang kosong, atau perladangan yang tak digunakan masyarakat untuk bercocok tanam, lapangan inilah yang dibentuk dan dibersihkan sedemikian rupa hingga layak digunakan untuk acara mendegger uruk, dilapangan ini juga akan didirikan langgeten atau balai yang digunakan sibaso untuk meminta berkat kepada pengisi ladang (penguasa mahluk gaib).

c. Barisan prosesi memasuki lapangan upacara adat
Dilapangan upacara, sukut telah bersiap-siap menanti para tetua adat yang dipandu oleh persinabul. Rombongan yang hadir dalam barisan prosesi ini terdiri dari sibaso, pemerintah setempat, puang bena, puang pengamaki, puangperempung-empung, puang perbapa-bapa dan puang karina. Rombongan ini akan disambut oleh panitia acara dan juga para berru di lapangan acara.

d. Mengera-era
Untuk memulai upacara mendegger uruk maka dilakukan sebuah tarian penyambutan yang disebut mengera-era yang menari hingga sampai di tempat upacara yaitu di langgeten. Mengera-era dilakukan untuk menyambut barisan prosesi yang teelah ditentukan. Posisi penari yang membawa era-era berada di depan dan kemudian diikuti oleh pertaki dan seluruh tokoh adat masyarakat di tempat.Makna dari tarian mengera-era pada masyarakat Pakpak yaitu bertujuan untuk memberikan sambutan dan selamat datang kepada tamu dan undangan dalam kegiatan tersebut. Era-era dipegang oleh tiga orang penari laki-laki berlatar belakang pemain pencak silat, masing-masing memiliki era-era sebagai lambang kuatnya rakut sitellu (daliken sitellu). Kemudian ada kaum wanita menjinjing baka kembal (bakul pandan) yang di atasnya ada pinggan tanoh dan di dalam pinggan ada beras, ketika pemimpin lewat maka ditaburkan beras sambil menyebut “mpihirtendi i juma dan i kuta” yang artinya tendi (roh) para pemimpin dan masyarakat sehat-sehat, keras seperti beras, dan jauh dari mara bahaya di manapun berada. Total pemain untuk penari era-era minimal 13 orang terdiri dari 10 orang kaum wanita dan 3 orang laki-laki pembawa era-era. Untuk musik pengiringnya adalah genderang sidua-dua yang berfungsi membawa melodi saat pengera-era menari.

Gambar 1 : menghera-era

e. Acara doa
Setelah mengera-era selesai, dan para tokoh dan pemerintah setempat telah memasuki tempat yang telah disediakan. Upacara kemudian dilanjutkan dengan berdoa (Pakpak : mersodip) yang dipimpin oleh sibaso, yang dalam masyarakat pakpak disebut “memaingken sodip mi sumangen (tendi) si enggo mate”. Sibaso biasanya dikenal oleh masyarakat pakpak adalah seorang laki-laki dewasa dari pihak puang yang memiliki kelebihan khusus sehingga dapat berkomunikasi dengan penguasa alam gaib, dapat meramal dan sebagai pusat informasi tentang segala kewajiban dan hak yang perlu atau harus dilaksanakan warga dalam kaitannya dengan upacara, sosial dan perladangan

f. Memasekken Jereten
Setelah acara pembukaan selesai dilanjutkan dengan acara pepajekken jereten (menamcapkan tiang jereten). Puang benna dan puang pengamaki akan datang memikul jereten dengan posisi puang benna di bagian depan jereten dan puang pengamaki di bagian belakang. Puang akan di sambut oleh berru takal peggu sambil mengera-era yang diiringi musik gendang sidua-dua. Sebelum menancapkan tiang jereten terlebih dahulu mereka mengelilingi lubang di mana jereten akan ditancapkan sebanyak tujuh kali.

Gambar 2 ; era-era, kujur sarke, dan Jeretten

g. Menggiring dan kipantem kerbau
Setelah jeretan berdiri dilanjutkan dengan menggiring kerbau ke tengahtengah lapangan yang telah di tancapkan jereten. Kerbau akan digiring oleh puang lalu disambut lagi oleh berru takal peggu menuju tiang jereten yang sudah ditancapkan dan iringi oleh gendang sidua-dua. Setelah kerbau sampai ke tempat dimana jereten ditancapkan, lalu kerbau diikat di jereten untuk selanjutnya akan ipantem (menombak).

Gambar 3 : Kerbau akan dipantem (ditombak)

h. Menaburkan page tumpar
Kemudian puang benna menaburken page tumpar (bibit padi) di sekeliling jereten untuk diambil seluruh peserta upacara, page tumpar ini nantinya akan dipakai sebagai bibit padi di ladang. Untuk upacara-upacara yang berhubungan dengan alam, biasanya akan memberikan padi tumpar kepada masyarakat. Biasanya bibit padi yang dipakai untuk upacara adat mendegger uruk ini adalah padi yang tumbuh di darat, sedangkan untuk jenis padinya tidak pernah ditentukan. Kemudian setelah bibit padi selesai ditaburkan, oleh sibaso bibit padi tersebut didoakan, lalu dilanjutkan dengan seluruh peserta upacara memungut page tumpar tersebut untuk dibawa pulang dan akan ditanam barsamaan dengan bibit padi yang akan ditaman diladang. Page tumpar yang diambil dari jereten tersebut tidaklah banyak, untuk masing-masing warga biasanya hanya segenggam tangan saja.

i. Acara Makan Siang
Setelah seluruh peserta upacara memungut page tumpar yang ditaburkan oleh puang benna, maka kerbau yang telah di tombak dibawa oleh berru untuk disembelih dan dipotong-potong bagian bagian tertentu dari bagian kerbau tersebut untuk dijadikan sulang. Diikuti dengan pemotongan kerbau-kerbau yang lain tuk dijadikan santapan makin siang (Pakpak:mangan togoh). Kepala kerbau yang telah dipotong kemudian diletakkan di atas jeretan yang melambangkan sifat yang sakral, dan juga melambangkan kesuburan dikaitkan dengan mata pencaharian masyarakat tersebut. Kerbau juga merupakan lambang keberanian dan kedudukan sosial yang tinggi dan sebagai penangkal roh jahat.

j. Acara Penutup
Selesai makan bersama dilanjutkan dengan kata-kata sambutan, ucapan syukur dan harapan dari masing-masing unsur; Pertaki, unsur sulang silima dan masing-masing utusan kuta. Selanjutnya upacara diakhiri dengan menari-nari dari masing-masing unsur tersebut dan pembagian sulang sesuai kedudukan masing-masing unsur. Sulang adalah persembahan atau bagian hak sesorang dalam daging kerbau yang telah di kurbankan. Sulang ini mimiliki fungsi untuk memperkuat integrasi sosial di antara masyarakat. Secara adat telah ditentukan siapa saja yang memperoleh daging (sulang) dan bagian yang mana. Kegiatan ini memiliki nilai yang cukup tinggi dalam mempererat hubungan antar sesama. Rincian tahapan upacara, umumnya lebih banyak diatur dan ditentukan oleh juru bicara (persinabul).Panitia melalui musyawarah hanya menetapkan dasar-dasar dari upacara mendegger uruk tersebut.

Video 1 : Kerja Mendeggr Uruk – Sulang Silima Boangmanalu

Daftar Pustaka :

Bangun, P. 1980. “ Kebudayaan Batak”, dalam Koentjaraningrat (ED) Manusia
dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : PT. Djambatan

Berutu, Lister dan Nurbani Padang.2013. Mengenal Upacara Adat Masyarakat
Suku Pakpak di SUmatera Utara.Medan : PT. Grasindo Monoratama dan
Pusat Penelitian Pengembangan Budaya Pakpak.

Berutu, Tandak. 1985. Pakpak dan Budayanya. Medan
Danandjaya, James. 1989. Folklor Indonesia ilmu gosip, dongen dan lain-lain.
Jakarta : PT Grafiti Pers