Ekokritik Sastra Lisan dalam Cerita Rakyat Lae Angkat

Di Siempat Rube terdapat sebuah sungai dengan dua nama. Di sekitar Mungkur dinamakan Lae Angkat, sedangkan yang mengalir di Jambu Rea dinamai Lae Sibellen. Sebenarnya, sungai ini bersumber dari satu sumber air yang tidak terpisah atau terbelah. Air mengalir dari hulu Delleng Sibarteng menuju Lae Kombih di Jambu Buah Rea. Kondisi ini dianggap unik sehingga seringkali menimbulkan pertanyaan bagi banyak orang. Ternyata, penyebutan nama Lae Angkat memiliki legenda atau kisah tersendiri. Sebelumnya, sungai itu dikenal dengan nama Lae Simbellen. Kaitannya dengan alam, ekologi dapat digunakan untuk menentukan apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan jika jaringan hidup tetap dijaga utuh dan dapat pula digunakan untuk mengkritik masyarakat secara radikal. Dengan demikian, konsep ini dapat digunakan sebagai alat kritik sehingga dalam teks sastra hal ini disebut dengan ekokritik.

Peduli lingkungan merupakan karakter etos kerja yang juga perlu dimiliki oleh sumber daya manusia dalam melestarikan lingkungan sekitar (Sibarani, 2018). Yang dimaksud dengan lingkungan di dalam konteks ini sangatlah luas. Sikap peduli terhadap lingkungan yang dimaksud adalah sikap yang mengacu pada peduli lingkungan hidup, kebersihan lingkungan sekitar, dan penjagaan sosial budaya. Ketiga sikap peduli lingkungan tersebut sangat berperan dalam menjamin kesejahteraan masyarakat dalam pembangunan yang berkelanjutan bernilai sosial yang tinggi. Sosial budaya yang dimaksud yang terdapat dalam sastra lisan masyarakat Pakpak.

Pengertian hutan secara umum adalah untuk menyebutkan suatu wilayah atau kawasan yang ditumbuhi oleh pepohonan lebat (baik sejenis maupun beragam jenis). Namun, sebuah kumpulan dari pepohonan ini hanya akan dianggap sebagai hutan jika memiliki kemampuan untuk menciptakan sebuah kondisi dan iklim yang khas (berbeda dengan bagian luar). Misalnya saja ketika memasuki sebuah hutan hujan tropis, maka suasana khasnya adalah lembab dan hangat yang tentu saja berbeda dengan suasana di luar hutan Permasalahan hutan yang terdapat dalam legenda Lae Angkat ini merusak hutan dengan kekuatan menyebabkan kerusakan pada alam dan sangat merugikan bagi manusia. Kutipan di bawah ini menggambarkan pengrusakan hutan dengan cara peperangan:

“Seluruh rumah rata dengan tanah, dan tidak ada pula warga yang tersisa. Mujur bagi isteri Meraja Delleng Br. Maha, di mana pada saat terjadi penyerangan dia sedang tidak di Lebbuh. Dia konon tengah mencari “rorohen” ke delleng.”

(Sempadan, 2018:24)

Berdasarkan uraian di atas, hutan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kebutuhan yang dimaksud tidak mengeksploitasi hutan. Karena hal tersebut dapat merusak ekosistem hutan sehingga dapat berubah menjadi bencana bagi masyarakat. Masyarakat mengambil hasil hutan sesuai kebutuhan saja. Pohon enau dalam bahasa Pakpak pola, pohon ini mirip dengan pohon kelapa, tapi penampakannya lebih pendek dan besar dibandingkan dengan pohon kelapa. Pohon ini terlihat “menyeramkan” karena penuh rambut berwarna hitam maupun bekas pelepah daun atau ditemukannya paku-pakuan. Dibalik keseramannya siapa yang mengira bahwa pohon ini memiliki banyak manfaat. Buah dari pohon ini memiliki manfaat kesehatan yang sangat baik.

Eksploitasi hutan secara terus-menerus akan mengakibatkan sumber kehidupan masyarakat desa akan berkurang secara perlahan. Enau (pola) sulit untuk ditemukan oleh generasi mendatang. Selain itu, banyak flora yang akan punah secara perlahan apabila eksploitasi terus dilakukan. Sebaiknya hutan tetap dijaga ekosistemnya agar tidak keberlangsungan di hutan tetap terjaga dengan baik. Sumber kehidupan masyarakat desa juga akan terpenuhi dengan sendirinya. Salah satu produk yang dikenal Arenga pinnata adalah gula aren atau dikenal dengan gula kawung. Pada produk pasaran, kita menjumpai banyak produk sebagai hasil dari pohon ini seperti daun, batang, ijuk, akar maupun buahnya seperti kolang-kaling, nira, dan pati atau tepung. Berikut manfaat yang dapat kita nikmati. Selain buahnya, ada bagian lainnya yang menyertainya telah lama dimanfaatkan, seperti bagian ijuknya dan nira atau sari manisnya.

“Pada suatu ketika, Meraja Delleng mengalami sakit keras dalam waktu yang cukup lama. Suatu hari timbul niat atau keinginan atau kerinduannya untuk meminum pola (tuak) dari Jambu Rea, dan meyakini bahwa hal ini akan dapat mengobati sakitnya. Sebab tuak atau pola dikampung itu sangat terkenal dengan rasanya yang enak. Lalu disuruhlah si Tatakuit pergi untuk mengambil pola tersebut di Jambu”.

(Sempadan, 2018:24)


Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa cerita rakyat Lae Angkat di Tanah Mungkur memberi gambaran bagaimana hubungan manusia dengan hutan, air sebagai sumber kehidupan, dan peduli terhadap lingkungan. Manusia yang mengandalkan alam untuk mempertahankan keberlangsungan hidup, sebaiknya menjaga alam dengan baik. Dengan demikian, akan terjalin hubungan baik dan harmonis antara manusia dan alam. Banyak karya sastra termasuk sastra lisan banyak yang mengangkat tema alam, sastra itu sendiri tidak terlepas dari lingkungan. Dalam hal ini menjaga keseimbangan alam merupakan pesan yang disampaikan kepada pembaca melalui cerita rakyat Lae Angkat di Tanah Mungkur. Mengeksploitasi hutan dapat merusak ekosistem yang ada dalam hutan dan sungai, selain itu juga akan terjadi kepunahan flora dan fauna. Akibat pengetahuan masyarakat tentang flora dan fauna di masa mendatang akan berkurang. Dalam hal ini peduli terhadap lingkungan yang telah memberi sumber kehidupan manusia harus tetap menjaga kelangsungannya sebagai kepentingan generasi di masa mendatang.

Daftar Pustaka :

Dewi, N. (2015). Manusia dan Lingkungan dalam Cerpen Indonesia Kontemporer:
Analisis Ekokritik Cerpen Pilihan Kompas. Litera.
Https://Doi.Org/10.21831/Ltr.V14i2.7211

Dewi, N. (2017). Ekokritik dalam Sastra Indonesia: Kajian Sastra yang Memihak.
Adabiyyāt: Jurnal Bahasa Dan Sastra. https://doi.org/10.14421/ajbs.2016.15102