Ungkapan/Umpama Masyarakat Pakpak

Dalam kehidupan sehari-hari ungkapan/pribahasa masyarakat Pakpak sering diucapkan. Setiap suku di manapun di Indonesia ini mempunyai ungkapan pribahasa. Ungkapan pribahasa ini merupakan daya magis tersendiri bagi masyarakat Pakpak. Ungkapan ini barangkali jarang terpublikasikan oleh masyarakat Pakpak itu sendiri di setiap acara pesta, adat, upacara atau keseharian di rumah tangga. Ungkapan tradisional sebagai bagian dari tradisi atau kultur budaya yang ada di daerah Pakpak antara lain: ungkapan yang berhubungan dengan kegiatan sehari-hari, ungkapan yang berhubungan dengan flora, Ungkapan yang berhubungan dengan fauna. Ungkapan yang berhubungan dengan flora misalnya: Bage golingen tabu “Seperti menggulingkan labu”. Ungkapan ini untuk menyebutkan seseorang yang tidak punya pendirian atau tidak percaya diri sehingga mudah untuk diperdayakan oleh orang lain.

Ungkapan itu muncul secara verbal dari seorang yang memiliki kearifan dalam berpikir dan santun dalam berbahasa serta memiliki kompetensi daya cipta, karya susastra yang baik. Dengan kata lain, bentuk ungkapan tradisional tersebut memiliki nilai atau makna eufemisme. Eufemisme, yaitu salah satu cara berkomunikasi di dalam kehidupan bermasyarakat. Eufemisme dapat menciptakan situasi dan suasana berbahasa yang jelas dengan maksud yang baik pula. Secara simbolis, pemakaian ungkapan itu memberi arahan tertentu kepada setiap warga Pakpak. Hal-hal yang dianggap baik haruslah ditiru dan sebaliknya yang buruk harus dihindarkan masyarakat. Nasihat itu disimbolikkan dengan mempergunakan alam yang ada disekitarnya. Dengan demikian, masyarakat memperoleh keuntungan ganda dalam hal nasihat dan sekaligus mengingatkan diri pada keadaan hutan tempat mereka hidup. Kita simak beberapa ungkapan dan makna di bawah ini :

1. Ulang Bage Urupen Sitangis “Jangan seperti membantu orang yang sedang menangis”.
Seseorang yang menangis pada saat kemalangan biasanya membuat orang lain juga ikut menangis. Setelah orang menangis yang pertama menjadi diam lalu membiarkan orang lain tersebut terus menangis. Ungkapan ini ditujukan kepada orang yang selalu memerintah orang lain tetapi dia sendiri tidak ikut mengerjakan sesuatu, yang seharusnya dikerjakan bersama.

2. Mula Enggo Meridi Taptap Mo “Kalau sudah mandi harus basah”

Kalau mandi haruslah basah ungkapan ini mengatakan, apabila mengerjakan sesuatu haruslah diselesaikan sampai selesai atau tuntas.

3. Ndates Penangkihen, Ndates Ma Mula Ndabuh “Tinggi panjatan, tinggi pula jika jatuh”.

Makna ungkapan ini adalah jika kita memanjat lebih tinggi, semakin tinggi juga kita akan jatuh. Semakin tinggi kedudukan seseorang, maka semakin tinggi pula tanggung jawab, tantangan dan resiko yang harus dihadapi.

4. Antan Sulangat Merio

Sulangat adalah penangkapan ikan khas Pakpak yang terbuat dari benang, kawat, dan kasa. Ungkapan ini mengatakan agar dalam melakukan segala sesuatu harus diukur dari kemampuan kita atau kita harus mengenal diri kita yang sebenarnya dalam mengerjakan sesuatu atau dalam memutuskan sesuatu yang melibatkan orang banyak.

5. Tarik-tarik Mengeraok Menjemput Poda “Hendak meraup banyak, mendapat sedikit pun tidak”

Kiasan ini ditujukan kepada orang tamak, dimana ia mengharapkan hasil banyak, kedudukan yang tinggi, keuntungan, akhirnya tidak mendapatkan sedikit pun hasil.

6. Mengite Babah Golok I Teruhna Ranjo

Parang dan ranjau adalah tajam sehingga setiap orang takut memijaknya. Ungkapan ini dikatakan kepada orang yang berbuat kesalahan besar yang sulit untuk dimaafkan maupun dibela.

7. Ipalkoh Sangkalen Mengena Penggel “Dipukul talenan telinga terasa”

Talenan alat atau landasan untuk memotong, mencincang, mengiris sesuatu. Ungkapan ini meminta kita untuk selalu menuruti, was-was dan tanggap terhadap nasehat yang berguna yang diberikan oleh orang yang berpengalaman seperti: orang tua, abang, kakak atau pimpinan.

8. Lbbe Ideger Asa Ndabuh “Setelah digoyah baru jatuh”

Dikatakan kepada orang yang sulit untuk mengerti tentang sesuatu atau pura-pura tidak tahu dan bisa juga dikatakan kepada seseorang yang sangat kikir. Setelah diberi isyarat tertentu atau dijelaskan secara terus terang baru mengerti permasalahan.

9. Bage Peman Tengger “Seperti tungguan tenger”

Tengger adalah sejenis buah kayu yang walaupun telah membusuk tidak jatuh. Ungkapan yang menyatakan tidak adanya kepastian terhadap suatu keputusan

10. Termela-melaken Cining i Abe

Untuk apa malu bekas luka di wajah. Ungkapan ini menyatakan kita harus memberitahukan yang sebenarnya. Kiasan ini mengartikan adanya kejujuran atau keterusterangan seseorang terhadap siapa dirinya dan apa yang dilakukannya.

11. Menenceng Bage Basi “Memaksa masuk seperti besi”

Dikatakan kepada orang yang selalu memaksakan kehendaknya kepada orang lain walaupun orang lain tersebut tidak menyukainya.

Daftar Pustaka :

Berutu, Lister. 2013. Umpama, Perumpamaan dan Koning-Koningen Suku Pakpak. Medan:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Budaya Pakpak

Danandjaja, James . Folklore Indonesian: Ilmu gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta:
Graffiti Press. 2002

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia